Memahami Kegelapan di Dalam Diri

Oleh ibunya, yang semasa di Portugal berprofesi sebagai dokter bedah, Fransisca kecil diperkenalkan kepada anatomi. Ia diarahkan untuk melihat tubuh sebagai semata objek bedah, bukan sesuatu yang sebelumnya memiliki jiwa. Di satu adegan, misalnya, di mana Fransisca kecil tengah menyimak penjelasan ibunya mengenai kemiripan mata sapi dan mata manusia, ia menyaksikan bagaimana ibunya itu mencongkel mata sapi dengan dinginnya, seolah-olah itu sesuatu yang teramat normal dan biasa. Tentu, si sapi sudah dalam keadaan mati; hanya tersisa kepalanya saja.

Ibunya itu memang menginginkan Fransisca kecil kelak mengikuti jejaknya, dan Fransisca kecil seorang anak yang cerdas dengan tingkat kuriositas tinggi. Hanya saja, perempuan itu lupa memperhitungkan kondisi psikologis anaknya ini. Bagaimanapun Fransisca masih terlalu kecil untuk mengenal dunia yang pernah digeluti ibunya itu. Memang, pada saat itu ia masih tampak baik-baik saja. Tetapi sesuatu yang gelap telah terbentuk di dalam dirinya dan tengah menunggu momen yang tepat untuk tumbuh.

Dan momen itu tiba suatu hari saat seorang lelaki asing membunuh ibunya. Di kamar mandi, ibunya bersama si lelaki asing itu, sementara Fransisca kecil duduk diam di sebuah kursi kecil di ruangan lainmungkin ruang tamu. Ketika ayahnya tiba dan bertanya kepadanya di mana ibunya, Fransisca kecil mengatakan bahwa ia tak bisa meninggalkan ibunya, dan ketika ia mengatakannya ia tak terlihat tegang, gugup, atau takut; justru benar-benar biasa saja. Sepersekian detik setelah ayahnya membuka pintu terkuaklah bahwa si lelaki asing itu telah membunuh ibunya, dan tengah dengan emosionalnya memukul-mukuli jasad perempuan itu seolah-olah ia sedang berusaha menghancurkannya.

Kematian ibunya di tangan si lelaki asing ini adalah momen pertama yang membuat kegelapan di dalam diri Fransisca tumbuh. Dan momen kedua segera mengikutinya, yang mendorong kegelapan di dalam dirinya itu tumbuh dengan cepat. Si lelaki asing, setelah dibuat pingsan oleh ayahnya, rupanya dibawa ke gudang dan disekap di sana; tangan dan kakinya dirantai dan ia dibiarkan berada di dalam kegelapan. Dan Fransisca kecil, oleh ayahnya ini, diserahi tugas untuk mengurus si lelaki asing.

Di sebuah adegan lain tak lama setelahnya, di mana Fransisca kecil sedang menjahit luka-luka di pelipis kiri si lelaki asing, ada sebuah dialog yang menarik. Si lelaki asing mengira Fransisca kecil akan membunuhnya, tetapi rupanya hal ini tak sedikit pun terbersit di benak Fransisca kecil. Ia, justru, melihat si lelaki asing ini sebagai temannya, sebagai satu-satunya temannya. Dan baik raut muka maupun gesturnya terlihat biasa-biasa saja saat ia mengatakannya. Terheran-heran dengan hal ini, si lelaki asing bertanya apa yang akan dilakukan Fransisca kecil terhadapnya. Dan di adegan berikutnya kita mengetahui apa yang dilakukannya itu: (1) mencongkel mata si lelaki asing lalu menjahit kelopak matanya; (2) menggorok sedikit tenggorokan si lelaki asing untuk membuatnya kehilangan suaranya.

Fransisca kecil melakukan kedua hal tersebut atas inisiatifnya sendiri. Sekali lagi, ia terlihat baik-baik saja; tidak tegang, gugup, takut, ataupun sedih. Ayahnya, yang semakin merasa terpukul dan tenggelam dalam kegelapannya sendiri, tak mengomentari apa yang dilakukannya ini. Selanjutnya Fransisca kecil melakukan hal-hal mengejutkan lainnya atas inisiatifnya sendiri seperti meyuapi si lelaki asing yang telah buta dan bisu itu potongan-potongan daging tikus.

Bertahun-tahun kemudian Fransisca kecil telah menjadi seorang perempuan yang beranjak dewasa. Si lelaki asing masih disekap di gudang itu, dan ia masih mengurusnya. Bahkan terlihat betapa ia menyayangi si lelaki asing, meski yang disayanginya sebenarnya adalah eksistensi si lelaki asing di dalam realitasnya ituseorang manusia yang disekap di gudang dan dibuatnya buta sekaligus bisu. Ayahnya, sementara itu, telah menua dengan begitu cepatnya; dan segera ia mati dengan mulut menganga meski untuk beberapa lama Fransisca masih memperlakukannya seolah-olah ayahnya itu masih hidupmendudukkannya di kursi atau sofa, membaringkannya di tempat tidur, menari di hadapan ayahnya. Kelak ada satu adegan di mana Fransisca memandikan ayahnya yang tinggal jasad itu di bathtub, di mana ia menangis untuk pertama kalinya dan ia mengatakan betapa sesungguhnya ia kesepian. Fransisca kemudian memutilasi jasad ayahnya ini, lantas menguburkannya malam-malam di sebuah hutan pinus(?) di dekat rumahnya. Sebelumnya, di rumahnya itu, ia telah memutilasi seorang perempuan asing yang ditemuinya di sebuah bar di kota.

Ketiadaan ayahnya, dan kegagalannya memperoleh sosok lain yang bisa menemaninya, membuat kegelapan di dalam diri Fransisca semakin pekat. Ia kesepian. Sangat kesepian. Dan beberapa kali ia dihadirkan tengah berdoa kepada mendiang ibunya, meminta perempuan itu menguatkannyaketika ia berdoa ia selalu berdoa dalam bahasa Portugal. Kesepian yang dirasakannya ini kelak jadi semakin menyiksanya setelah ia membunuh si lelaki asing yang disayanginya itu karena si lelaki ini berusaha kabur; dan adegan pembunuhan ini terjadi justru setelah Fransisca memandikan si lelaki asing untuk kemudian tidur dengannya. Untuk kedua kalinya, Fransisca menangis dan mengatakan betapa ia sesungguhnya kesepian, betapa ia tak tahu apa yang harus dilakukannya mulai dari titik itu. Dan ia menangis sambil meringkuk di hutan tadi. Di sana ia terus menangis dan menangis sampai ia tertidur.

Keesokan harinya, ketika ia terbangun, Fransisca berjalan keluar dari hutan dan tiba di jalan. Sebuah mobil lewat dan ia menyetopnya, meminta tumpangan. Si pengendara rupanya seorang ibu muda yang membawa bayinya bersamanya. Setelah mobil tiba di depan rumahnya, Fransisca terus meminta agar ia diperbolehkan menggendong si bayi. Dan ketika ia akhirnya menggendong si bayi, ia langsung berlari membawa si bayi itu ke rumahnya, naik ke lantai dua, dan membaringkan si bayi di tempat tidurnya. Ibu si bayi tentu panik dan mengejarnya, dan ia pun mendapati bayinya itu tengah berbaring dan menangis di tempat tidur itu. Sayangnya, tanpa pernah diduganya, Fransisca menusuknya di punggung dengan pisau, dan ia pun tersungkur kesakitan. Selanjutnya perempuan ini disekap Fransisca di gudang, dibuatnya buta sekaligus bisu. Eksistensi si perempuan di dalam realitasnya seolah-olah perpanjangan dari eksistensi si lelaki asing yang dibunuhnya tadi.


Itulah gambaran kasar film The Eyes of My Mother (2016) garapan Nicolas Pesce–tidak sampai akhir. Bisa kita lihat, film ini berusaha menggambarkan bagaimana kegelapan tumbuh di dalam diri manusia, untuk kemudian menjadi pekat dan semakin pekat, dan akhirnya menguasainya dan mengendalikannya. Mudah saja mengatakan bahwa Fransisca bisa sampai melakukan tindakan-tindakan tak manusiawi itu karena pada dasarnya ia memang orang jahat, tapi itu terlalu reduktif dan sangat jauh dari apa yang sebenarnya terjadi. Ingat, ketika ia masih sangat kecil dan momen penting pertama tadi belum ada, Fransisca masihlah seorang anak perempuan yang biasa.

Bahwa Fransisca kecil membuat si lelaki asing pembunuh ibunya itu buta sekaligus bisu, dengan tangannya sendiri, adalah dampak negatif dari obsesi ibunya dalam memperkenalkan anatomi dan hal-hal lainnya terkait dunia yang ia geluti itu kepadanya. Akan berbeda, tentu, jika sang ibu tidak memperkenalkan Fransisca kecil kepada hal-hal tersebut, atau memperkenalkannya namun dengan menyertakan emosi dan empati, setidaknya untuk membuat Fransisca kecil memahami bahwa tubuh di hadapannya itu pernah bernyawa. Fransisca kecil menjadi begitu dingin karena obsesi ibunya ini. Dalam hal ini, ia adalah korban dari kesalahan kecil yang tak disadari oleh ibunya.

Dan ia pun adalah korban dari kesalahan kecil yang tak disadari oleh ayahnya. Sebenarnya, ayahnya itu bisa saja membunuh si lelaki asing atau membawanya ke kantor polisi. Tetapi ia malah menyekapnya di gudang. Dan lebih parahnya lagi: ia meminta putri kecilnya itu yang mengurusnya. Ada beberapa adegan lainnya di film ini yang menunjukkan keputusasaan ayahnya, di mana ia membiarkan Fransisca kecil mengurusi hal-hal yang sebenarnya terlalu cepat untuk anak seusianya. Misalnya, setelah adegan di mana ayahnya menyeret lelaki asing itu ke gudang, dihadirkan adegan di mana Fransisca kecil sedang mengelap dan membersihkan lantai rumah yang penuh genangan cairan kental seperti darah, di mana ia melakukannya dengan raut muka datar dan tanpa mengatakan apa pun. Di adegan lain, yang agaknya masih di hari yang sama, Fransisca kecil diminta ayahnya membantunya mengubur jasad ibunya di hutan pinus dekat rumah mereka itu.

Dua kesalahan ini, yang selanjutnya kita sebut saja kesalahan pengasuhan, tak bisa diabaikan begitu saja. Pengaruhnya signifikan dalam membentuk diri dan perspektif Fransisca, terutama karena realitas yang dijalaninya adalah realitas di mana ia terisolasi dari manusia-manusia lain. Ingat, Fransisca kecil menganggap si lelaki asing yang disekap ayahnya itu sebagai satu-satunya temannya, yang adalah sebuah tanda bahwa sebelumnya ia tidak memiliki seorang pun teman. Memang, di adegan-adegan sebelum momen biadab itu tiba, Fransisca kecil tak digambarkan berinteraksi dengan anak-anak seusianya; tidak juga dengan orang lain selain ayah dan ibunyadan lelaki asing itu. Keterisolasiannya ini membuatnya tak bisa memperoleh tawaran-tawaran perspektif lain, sehingga sekalinya kegelapan di dalam dirinya itu tumbuh ia seperti tak punya pilihan lain selain membiarkannya tumbuh dan terus tumbuh, dan akhirnya menguasainya. Ia, dengan kata lain, adalah korban dari tiga hal sekaligus: (1) kesalahan pengasuhan kedua orangtuanya; (2) momen biadab yang merenggut nyawa ibunya; dan (3) keterisolasiannya.

Sampai di titik ini, kita sudah mendapati bahwa yang membuat Fransisca bisa melakukan hal-hal tak manusiawi tadi bukanlah semata-mata karena ia orang jahat. Memang, apa-apa yang dilakukannya tak mungkin tak kita sebut kejahatan, tetapi di baliknya, sebagaimana kita temukan tadi, ada hal-hal yang justru di situ posisi Fransisca adalah korban. Maka yang bisa kita katakan tentang kasus Fransisca ini adalah bahwa Fransisca menjadi jahat karena sebelumnya ia adalah korban, di mana ia tak sedikit pun menyadari bahwa ia adalah korban. Dan meskipun kita mengatakan bahwa ia adalah orang jahat, dari sudut pandang tertentu, kita bisa juga mengatakan bahwa ia adalah orang baik yang tak memahami bahwa apa-apa yang dilakukannya itu adalah kejahatan. Moralitas Fransisca adalah moralitas yang berbeda dari moralitas orang-orang pada umumnya. Sejenis moralitas yang tak memungkinkannya membedakan dengan tegas mana hal baik mana hal buruk, mana kebaikan mana kejahatan. Dan moralitasnya ini, tentunya, dibentuk oleh tiga hal tadi: kesalahan pengasuhan orangtuanya, kematian tragis ibunya, dan keterisolasiannya. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa Fransisca adalah korban. Ia adalah korban yang pada akhirnya, secara alamiah, bertransformasi menjadi pelaku kejahatan.

Tentu, film ini tidak sedang mencoba mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan seseorang harus dimafhumi, bahwa kegelapan yang tumbuh hingga begitu pekat di dalam diri seseorang harus diterima apa adanya. Yang coba dikatakannya adalah bahwa ada hal-hal yang membuat kegelapan di dalam diri seseorang tumbuh, yang mendorongnya untuk terus tumbuh dan tumbuh, yang memungkinkannya menguasai seseorang itu. Dan perhatian kita sudah semestinya diarahkan juga ke hal-hal ini, sebab apabila kita berhasil menemukannya kita mestilah memiliki peluang yang lebih besar dalam mencegah kejahatan serupa terulang di masa depan.


Selain kasus Fransisca ini, ada juga kasus lainnya yang menarik untuk dicermati ketika kita ingin mencoba menguak bagaimana kegelapan di dalam diri manusia bisa tumbuh dan terus tumbuh, dan akhirnya menguasainya. Yang dimaksud adalah kasus Hijiribe Ruri.

Ruri adalah salah satu tokoh di Durarara!, serial anime garapan sutradara Omori Takahiro, yang merupakan adaptasi dari light-novel dan manga dengan judul yang sama karya Narita Ryohgo (penulis cerita) dan Yasuda Suzuhito (ilustrator). Ia, yang sukses berkarier sebagai aktris dan penyanyi solo, digambarkan memiliki kegelapan yang begitu pekat di dalam dirinya. Saking pekatnya kegelapannya ini, di mana ia tak bisa menahan-nahannya lagi, suatu ketika ia melakukan beberapa pembunuhan sambil mengenakan topeng monster.

Sedari kecil, Ruri memang sudah memiliki relasi yang unik dengan kegelapan di dalam dirinya ini. Ia, misalnya, pernah diolok-olok teman-teman lelaki seumurannya; ia disebut monster karena ada kabar yang tersebar bahwa neneknya adalah monster. Dihadapkan pada perisakan ini, Ruri kecil bukannya kesal dan marah; justru ia tersenyum senang. Ia suka dengan ide bahwa di dalam dirinya memang bersemayam sesosok monster.

Dan rasa sukanya ini terus mengikutinya. Beranjak dewasa, Ruri mendapati ia terpesona pada sosok-sosok monster di film-film Hollywood, sampai-sampai ia berkali-kali menonton film-film itu. Ruri bahkan jadi terobsesi pada sosok-sosok monster yang mengerikan, menjijikan, dan jauh dari indah itu. Untuk menyalurkan obsesinya ini ia pernah belajar membuat riasan monster untuk produksi film, dan Ruri ternyata berbakat dan suatu kali seseorang yang berpengaruh di dunia perfilman menariknya untuk bekerja bersamanyamenjadi penata rias sosok-sosok monster. Dan begitulah, setelah Ruri beralih profesi menjadi aktris dan penyanyi solo, obsesinya pada monster masih tetap ada. Obsesinya ini bahkan menyatu dengan kegelapan di dalam dirinya, yang termanifestasikan lewat beberapa pembunuhan yang dilakukannya tadi.

Berbeda dengan kasus Fransisca tadi, kasus Hijiribe Ruri ini mencoba mengatakan kepada kita bahwa munculnya kegelapan di dalam diri seseorang adalah karena sesuatu yang sifatnya bawaan; semacam informasi genetik yang tertanam di struktur DNA-nya–diturunkan dari sang nenek. Memang ada juga pengalaman-pengalaman traumatik yang dialami Ruri baik itu ketika ia kecil (bisnis keluarganya hancur dan rumahnya dibakar dan orangtuanya menghilang entah ke mana; sejak saat itu Ruri hidup bersama kakeknya) ataupun saat ia dewasa (meski sukses berkarier sebagai aktris dan penyanyi Solo, sampai titik tertentu Ruri senantiasa berada dalam ancaman dan kekangan seorang lelaki tua yang mengaku mengetahui di mana orang tuanya berada; si lelaki memintanya menuruti perintahnya kalau Ruri ingin orangtuanya itu selamat), tetapi penekanannya lebih kepada kegelapan di dalam diri sebagai sesuatu yang sifatnya bawaan. Ini menarik, karena sains modern membenarkan hal ini.

Lebih tepatnya, sains modern mengatakan bahwa diri dan karakter seseorang, termasuk kegelapan di dalam dirinya itu, dibentuk oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini berupa informasi genetik yang tertanam di dalam struktur DNA-nya; sesuatu yang diwariskan oleh orang tuanya atau orang tua dari orang tuanya, yang karenanya bisa dilacak ke atas. Faktor eksternal, sementara itu, terbagi ke dalam beberapa macam mulai dari pengasuhan, pendidikan, pengalaman, hingga peristiwa traumatik yang tak bisa diprediksi. Kedua faktor ini berkelindan dan komposisinya khas di tiap-tiap individu. Untuk mereka yang faktor internalnya begitu kuat, misalnya, cukup dengan faktor-faktor eksternal yang levelnya biasa saja sudah bisa membuat kegelapan di dalamnya dirinya cukup pekat dan berpotensi menguasainya. Dan, apabila faktor-faktor eksternalnya ini sama kuatnya dengan faktor internalnya, adalah sebuah kewajaran belaka jika kegelapan di dalam dirinya itu begitu pekat dan menguasainya.

Dan itulah yang kita dapati di kasus Hijiribe Ruri. Di satu adegan, ketika Ruri yang telah dewasa mengetahui kenyataan pahit bahwa orang tuanya itu sudah lama mati, dibunuh oleh orang-orang suruhan si lelaki tua yang mengekangnya tadi, ia berteriak begitu kencang, dan di titik inilah ia menyadari bahwa sesosok monster di dalam dirinya telah bangkit. Sosok monster inilah yang menguasai Ruri ketika ia melakukan pembunuhan-pembunuhan tadi. Sosok inilah yang, secara sadar, dibiarkan Ruri memegang kendali atas dirinya ketika ia melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Di sisi lain, tak terbantahkan bahwa kegelapan di dalam diri Ruri memang sesuatu yang diwariskan oleh neneknya.

Sebenarnya, sampai kadar tertentu, kasus Fransisca tadi pun bisa ditarik ke sana. Memang yang ditonjolkan di sepanjang film adalah begitu kuatnya faktor-faktor eskternal dalam membentuk dan menumbuhkan kegelapan di dalam diri Fransisca, tetapi apabila kita cukup jeli kita akan mendapati juga bahwa mungkin saja kegelapan ini telah ada di dalam diri Fransisca kecil sebagai sesuatu yang diwariskan oleh ibunya, mengingat perempuan itu pernah berprofesi sebagai dokter bedah dan ia telah sampai ke fase di mana ia melihat tubuh hanya sebagai objek bedah semata. Perbedaannya dengan kasus Hijiribe Ruri adalah pada tidak begitu kuatnya faktor internal ini. Bagaimanapun, kita tak akan menyebut ibunya Fransisca itu sesosok monster. Fransiscalah yang akan kita sebut monster, bukan ibunya.

Bercermin pada dua kasus ini, sekarang kita memahami bahwa terbentuk dan tumbuhnya kegelapan di dalam diri manusia memiliki dua dimensi sekaligus: dimensi inividual dan dimensi komunal. Itu artinya ketika seseorang dikuasi oleh kegelapan di dalam dirinya yang telah begitu pekat, di mana yang terkorbankan oleh hal ini bukan saja dirinya tetapi juga orang-orang di sekitarnya, ada dua pendekatan yang harus coba kita pakai untuk mengatasinya. Pertama, pendekatan individual; kita melihat seseorang itu sebagai sesosok manusia yang kebutuhan-kebutuhan dasarnya tak terpenuhi karena persoalan-persoalan individual yang membelitnya. Kedua, pendekatan komunal; kita melihat seseorang itu sebagai bagian dari sebuah masyarakat yang memiliki persoalan-persoalan sistemik yang mendorong seseorang itu membiarkan kegelapan di dalam dirinya menguasainya.

Dan kedua pendekatan ini tentu harus dilakukan secara simultan, di mana tidak boleh ada yang dianaktirikan. Anggaplah kita berhadapan dengan dua kegelapan sekaligus, yang bisa jadi sama pekatnya. Yang dimaksud adalah kegelapan di dalam diri seseorang dan kegelapan di dalam masyarakat di mana seseorang itu berada.(*)

Bogor, 9-13 Oktober 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *