Kematian Kita

Dalam tiga tahun terakhir, setiap kali mendengar suara Ibu, aku selalu membayangkan kematianku sendiri. Aku mengiris nadi, menikamkan pisau tajam ke leher atau dada, menggantung diri, menjatuhkan diri dari balkon atau tebing yang curam. Hal-hal seperti itu. Aku kerap memejamkan mata saat suara Ibu itu merasuk masuk ke dalam diriku, dan dengan khusyuk aku memvisualkan gambaran-gambaran tadi, mencoba meresapinya dengan kelima indraku. Suatu kali, agaknya delapan bulan yang lalu, aku pernah tergerak untuk benar-benar melakukannya, merealisasikan apa-apa yang pernah kubayangkan itu, meski aku pada akhirnya urung melakukannya. Ketika itu aku menyadari satu hal: aku rupanya masih ingin terus hidup, bertahan, di dunia ini.

Kali ini pun itulah yang terjadi. Ibu meneleponku tiga belas menit yang lalu dan kini, dengan mata terarah ke langit malam, aku membiarkan suara Ibu merangsek masuk ke lubang telingaku, mengalir di dalam diriku bersama darahku, dan aku berpura-pura tak terganggu olehnya. Ibu kembali bicara soal kecemasannya bahwa aku belum juga terlihat akan memutuskan untuk berkeluarga dan meneruskan keturunan; juga soal anak perempuannya ini yang meski sudah kepala tiga tak terlihat akan memoles diri dan menjaga penampilan seperti perempuan-perempuan lain. Aku menyimaknya, namun tak benar-benar menyimaknya. Sementara menit demi menit berlalu dalam situasi seperti itu aku melihat diriku, lebih tepatnya sesuatu serupa diriku, berdiri di atas sebuah kursi di atas meja di sebelah kananku, dan berjinjit memasang tali-serupa-kabel tebal di atas jendela, di sebuah pegangan besi di lubang ventilasi. Tak lama lagi, aku tahu, ia akan mengikatkan tali-serupa-kabel itu di lehernya, lalu menendang kursi itu, lantas dengan mata membelalak dan leher menjulur-julur dan kaki mengayun-ngayun di udara ia pun menjemput kematiannya, di mana kematian itu akan benar-benar datang dan terasa nyata, di hadapanku. Seperti yang sudah-sudah, proses kematian itu akan cukup lama; cukup lama untuk membuatku mengerti bahwa rasa sakit dan rasa takut yang menggerogoti sesuatu itu akan juga menggerogotiku, cepat atau lambat.

Jika ditanya bagaimana mulanya aku jadi membayangankan kematianku sendiri saat aku mendengar suara Ibu, jujur saja, aku tak tahu bagaimana menjawabnya. Tiga tahun lalu, seingatku tiga tahun lalu, untuk pertama kalinya aku mengalaminya; dan seiring waktu berlalu rupanya aku telah begitu sering mengalaminya sampai-sampai aku mulai yakin dalam tiga tahun ini aku tak pernah melalui satu percakapan-via-telepon pun dengan Ibu tanpa dirongrong bayangan kematianku itu. Jauh sebelum itu, ini jika aku tak salah ingat, percakapan dengan Ibu selalu sebuah percakapan yang biasa; biasa, dalam arti aku paling-paling hanya akan kesal dan berusaha tak mengacuhkannya tanpa bayangan kematian apa pun bangkit di benakku. Aku tidak membenci Ibu; ini harus kuluruskan. Yang aku benci adalah saat-saat di mana Ibu begitu bersemangat menasihatiku ini-itu dalam upaya menjalani hidup yang baik, yang “normal” seperti orang kebanyakan. Sebelum Ibu mulai sering melakukannya, aku telah hidup mandiri (dan hampir-hampir sendiri) cukup lama di kota ini, jauh dari kota kelahiran kita, sehingga apa yang dilakukan Ibu itu begitu aneh di mataku. Lagipula, kita tentu sama-sama tahu, di antara kita kamulah yang benar-benar dicurahi kasih-sayang dan perhatian Ibu.


Ibu mulai berubah seperti itu kira-kira tiga bulan setelah kematianmu. Kamu, satu-satunya anak laki-lakinya, anak kesayangannya, meninggalkan kehidupan ini jauh lebih dulu darinya; dan ia tak bisa menerimanya. Soal kamu anak kesayangannya ini aku sudah bisa melihatnya sejak kamu masih balita. Sebelas tahun beda usia kita. Itu cukup untuk menghadirkan jarak yang sangat jauh atau dinding yang sangat tebal yang memisahkan dan menjauhkan kita. Aku tak membencimu; kamu harus tahu itu. Aku bahkan tak merasa punya masalah dengan wajahmu yang menurutku lebih dekat ke cantik dan imut ketimbang tampan ituhampir-hampir kebalikan dari wajahku. Ketika kamu mulai bersekolah di SMP, saat itu aku sudah bekerja di sebuah perusahaan game dan tengah berusaha berdamai dengan keseharianku, dengan realitas yang kuhadapiyang monoton dan membosankan namun harus kuhadapi. Kemudian tanpa pernah aku duga-duga, hampir tiga tahun setelahnya di saat kamu semestinya tengah merayakan kelulusan sambil berusaha mempersiapkan diri untuk ujian masuk ke SMA, Ibu meneleponku, mengabariku sesuatu yang tak bisa ia percaya benar-benar terjadi; benar-benar terjadi, di dunia ini. Kamu mati. Kamu bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari atap gedung sekolahmu. Begitulah Ibu memberitahuku. Ia masih memberitahuku beberapa hal lagi namun pikiranku langsung terfokus pada sekolahmu itu; sebuah sekolah elit di kota kelahiran kita yang terkesan dingin dan tak ramah. Dan aku pun ingat, tiga tahun sebelumnya, Ibulah yang memilihkan sekolah itu untukmu.

Setelah percakapan via telepon dengan Ibu itu selesai, aku teringat satu hal. Suatu kali, saat aku sedang berada di rumah dan kita mengobrol berdua saja, kamu berkata ada sebuah rahasia yang ingin kamu sampaikan padaku, hanya padaku. Perubahan nuansa di raut mukamu saat itu membuatku cemas; aku menatap matamu, berusaha menebak-nebak apa kiranya rahasia tersebutapakah sesuatu yang muram dan semuram apa. Lalu kamu berkata, hampir-hampir berbisik, Berada di sekolah membuatku menderita. Aku tak tahu apa yang sebenarnya salah denganku, tetapi beberapa orang di kelas suka sekali mengerjaiku, mengasariku; suatu kali mereka bahkan menyeretku ke toilet dan membenamkan mukaku ke lubang kloset, berkali-kali. Di sana, aku ini anak biasa. Aku tidak pintar; dan guru-guru tak tertarik pada anak yang tak pintar. Di sisi lain, aku juga tidak suka anak-anak perempuan mendekatiku dan mengatakan bahwa aku cantik dan mereka menyukainya. Entah kenapa, mendengarnya membuatku muak. Memang aku punya teman, tapi tak sampai bisa kusebut sahabat. Kami hanya teman. Teman makan. Teman belajar. Itu saja. Dan ketika aku merasa semuanya semakin buruk saja, semakin memuakkanku saja, aku sebenarnya ingin berhenti sekolah dan hanya mengurung diri di kamar. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Bahkan mungkin selamanya. Tentu saja jika aku melakukannya Ibu akan kecewa, sangat sangat kecewa. Dan dia pasti akan memarahiku, dan mendesakku kembali bersekolah, kembali berinteraksi dengan orang-orang dan semacamnya. Pastilah begitu. Kakak, aku mengatakan ini kepada Kakak karena aku percaya Kakak tak akan mengatakannya kepada siapa pun. Sejujurnya, aku sudah tak tahu lagi untuk apa aku ada di kehidupan ini, juga mengapa kita manusia harus ada di kehidupan ini. Beberapa kali, terutama ketika aku sedang tertekan, aku bermimpi mengakhiri hidupku sendiri.”

Saat membantu Ibu membereskan kamarmu, di laci meja belajar, terselip di sebuah buku tulis di tumpukan paling bawah, aku menemukan selembar kertas. Kamu menulis sesuatu di sana. Semacam pesan terakhir, kukira; sesuatu yang ingin sekali kamu sampaikan kepada Ibu namun tak pernah bisa juga kamu sampaikan, bahkan hingga akhir hidupmu. Di sana kamu meminta maaf karena tak bisa menjadi anak yang dikehendaki Ibu; kendati kamu lulus dengan nilai yang baik namun kamu sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupmu sebelum memasuki SMA. Aku sudah lelah menjalani kehidupan ini, begitu kamu menulis di sana. Di dua paragraf terakhir, kamu menyebut-nyebut keinganan kuat Ibu melihatmu muncul di televisi sebagai host atau bintang film atau semacamnya, juga tentang hal-hal traumatik yang kamu alami di sekolah yang tak pernah bisa kamu katakan kepada Ibu atau siapa pun. (Soal menceritakan hal itu kepadaku entah kenapa kamu tak sedikit pun menyinggungnya.) Surat tersebut, kamu akhiri dengan kalimat ini: Sesuatu yang kita bayangkan adalah sesuatu yang kita bayangkan, hanyalah sesuatu yang kita bayangkan.

Aku menunjukkan suratmu itu kepada Ibu dan Ibu membacanya dan selepas itu, dengan kemarahan yang tergambar jelas di matanya, Ibu menangis dan menangis, dan meraung dan meraung. Beberapa hari kemudian, selama beberapa bulan, Ibu terus mendesak pihak sekolah untuk memberitahunya apa saja yang sebenarnya telah kamu alami dalam tiga tahun itu; ia pun meminta mereka bertanggung jawab atas kematianmu, sebab jika hal-hal buruk di sekolah itu tak pernah ada Ibu yakin kamu tak akan bunuh diri. Tak akan. Bahkan terpikir untuk melakukannya pun tidak.

Sejauh yang aku tahu, pihak sekolah menutup diri; mereka membentengi diri dari desakan dan tuduhan Ibu; mereka bahkan mengeluarkan pernyataan bahwa di sekolah tersebut tidak pernah terjadi hal-hal buruk apa pun sebab sekolah tersebut adalah sekolah elit, di mana para guru dan staf pastilah akan sigap bertindak jika memang hal semacam itu terjadi. Pada masa itu, meski aku sebenarnya kasihan kepada Ibu, aku tidak mau ambil pusing soal hal itu; aku selalu menghindar setiap kali Ibu mencoba menyeretku ke dalam perjuangannya itusesuatu yang berakhir sia-sia. Dan begitulah, kira-kira tiga bulan setelah kematianmu, Ibu mulai sering meneleponku, menceramahiku ini-itu seolah-olah dalam 20 tahun lebih hidupku yang aku lakukan hanyalah membuatnya cemas dan cemas dan cemas; seolah-olah selama ini kepada akulah ia mencurahkan segenap perhatian dan kasih-sayangnya. Pernah suatu ketika, aku begitu kesal, dan ingin sekali mengatakan ini: Ibu sesungguhnya hanya peduli pada keinginan Ibu sendiri. Ibu sama sekali tak memahami anak-anak Ibu. Tidak. Sama sekali tidak. Aku memang mengatakannya, pada akhirnya, tetapi setelah percakapan kami itu selesai.


Enam tahun sudah berlalu sejak kematianmu, dan Ibu masih saja seperti itu, dan itu membuatku heran, sebenarnya. Kadang aku berpikir Ibu sesungguhnya tak memahami apa yang semestinya dilakukannya sebagai seorang ibu; bahkan, sebagai dirinya sendiri; sebagai satu entitas tak berarti di kehidupan ini. Ibu mungkin berpikir aku akan bahagia, atau setidaknya menjalani hidup yang lebih baik bagiku, jika saja aku seperti dirinya dulu, memutuskan untuk menikah dan memiliki anak dan semacamnya; karena itulah ia tak bosan-bosannya mendesakku; dan mungkin ia melihat ini sebagai sebuah cara ia menuangkan kasih-sayangnya, kepadaku. Jika benar seperti itu maka sayang sekali aku harus membuatnya kecewa, sebab aku tak bisa membayangkan suatu saat nanti aku tinggal serumah atau sekamar dengan seseorang dan dari seseorang itu aku memiliki anak dan akumungkin bersamanyamerawat anak itu, dan aku kemudian melihat anakku itu seperti Ibu melihat kita. Itu mengerikan. Itu terlalu mengerikan, di mataku.

“Coba bayangkan kamu sudah tua renta dan Ibu sudah lama mati dan di sampingmu tak ada siapa pun. Kamu bisa menjalani hidup seperti itu–menjemput kematianmu, seorang diri?”

Ibu mengatakannya, dengan nada yang menekan. Dan aku berusaha tak mengacuhkannya, seperti yang selalu kulakukan. Setelahnya ia masih mengatakan beberapa hal lagi dan sebab aku benar-benar tak ingin menyimaknya aku memejamkan mata dan langit malam itu lekas lenyap; sebaliknya, bayangan sesuatu serupa diriku itu tengah mempersiapkan kematiannya menjadi jelas, menjadi semakin jelas, seakan-akan nyata, seolah-olah aku sendirilah yang tengah melakukannya, mempersiapkan kematianku sendiri.

“Adikmu sudah tiada. Kamu kini anak Ibu satu-satunya. Berjanjilah untuk membuat dirimu bahagia,” ujar Ibu.

Aku membuka mata, dan kembali menemukan langit malam itu. Tak begitu bagus, sebenarnya. Awan hitam cukup banyak, sehingga sedikit sekali bintang yang terlihat. Dan bulan hanya tinggal sabit. Tak menarik.

“Lusa nanti pastikan kamu ambil cuti dan pulang. Kita akan sama-sama mendoakan adikmu, kata Ibu,” kali ini pelan.

Aku sedikit menundukkan kepala, mengamati kota yang bercahaya. Dan tiba-tiba, sementara sesuatu serupa diriku itu sedang akan menggantung dirinya, aku jadi membayangkan lusa aku berada di rumah dan mendoakanmu, dan setelahnya terdiam memandangimu. Memandangimu.(*)

Bogor, 16-17 September 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *