Mengapa Kita Bertahan Hidup?

Ayano berusia 25 tahun dan ia seorang single mother. Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan aktivitasnya di dunia modelling dan di Instagram. Sebenarnya ia bisa saja menerima tawaran-tawaran untuk juga muncul di program-program televisi tetapi untuk saat ini ia menolaknya sebab ia masih terkendala oleh sesuatu hal. Yang dimaksud adalah gangguan yang dideritanya, yang membuatnya sulit merasa nyaman ketika berada di lingkungan baru dan berhadapan dengan orang-orang yang tak dikenalnya. Ayano adalah odb–orang dengan (gangguan) bipolar. Sewaktu-waktu ia bisa sangat murung dan ingin sekali mati. Pernah, beberapa kali, ia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.

Gangguan yang diderita Ayano ini adalah dampak negatif dari sebuah hubungan toksik yang pernah dijalaninya dulu. Selepas lulus SMA ia berpacaran dengan seorang lelaki yang pada akhirnya banyak melakukan kekerasan terhadapnya, baik secara fisik maupun psikis. Pada satu masa hubungan mereka Ayano bahkan disekap di rumah si lelaki; ia tak dibiarkan pulang atau sekadar menghubungi teman-temannya, atau bahkan sekadar makan dan mandi sekalipun. Kelak ia akhirnya lepas dari cengkeraman si lelaki dan si lelaki ini sendiri ditangkap polisi dan dipenjara, tetapi butuh waktu lama baginya untuk menyadari apa yang sebenarnya telah dialaminya itu, apakah itu sesuatu yang wajar atau tidak, apakah ia layak menerima perlakuan-perlakuan buruk itu atau tidak. Ayano, misalnya, sempat meminta pihak kepolisian untuk membebaskan si lelaki, sebab ia tidak merasa apa yang telah dilakukan si lelaki itu terhadapnya adalah sebuah kejahatan.

Kini Ayano secara rutin mengonsumsi obat dan memeriksakan diri ke rumah sakit. Ia tahu betul bahwa ia belum sembuh, dan sejujurnya ia pun tahu bahwa ia tak begitu peduli pada dirinya sendiri. Yang ia pedulikan adalah anaknya; sesosok anak perempuan berusia lima tahun yang bagaimanapun membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Ia berpikir kalau saja gangguan itu tak dideritanya maka ia pastilah bisa melakukan lebih banyak hal baik untuk anaknya itu.

Si anak sendiri, di mata Ayano, begitu perhatian dan pengertian. Katakanlah ia mendapati Ayano begitu murung dan mulai menangis. Dengan sendirinya, ia akan menghampiri Ayano dan menawarinya tisyu dan bertanya apakah Ayano baik-baik saja; bahkan ia meminta maaf sebab mungkin berpikir yang membuat Ayano murung dan menangis adalah apa yang telah dilakukannya. Ayano mengakui bahwa menyaksikan pertumbuhan anaknya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri baginya. Dan ia pun memutuskan untuk bertahan hidup, melawan gangguan yang dideritanya itu, demi kebaikan-kebaikan lain yang kelak bisa diberikannya kepada anaknya itu.


Kasus Ayano ini menggambarkan bagaimana evolusi bekerja. Banyak orang berpikir bahwa evolusi adalah soal bagaimana individu bertahan hidup namun sesungguhnya itu keliru. Evolusi bukan soal individu, tetapi spesies. Individu-individu memosisikan diri sebagai bagian dari spesies tertentu dan kelangsungan eksistensi spesies inilah yang mereka jaga, bukan kelangsungan hidup individu-individu itu sendiri. Kita, misalnya, selalu bicara soal bagaimana agar Homo sapiens tetap bertahan di tengah ancaman pemanasan global, dan seringkali kita mengakuiminimal secara diam-diambahwa sebagian manusia bisa saja dikorbankan untuk mewujudkan hal tersebut–misalnya, kita menyumpahi orang-orang yang tak peduli pada isu lingkungan untuk cepat mati. Keluarga, dalam hal ini, adalah salah satu bagian kecil di dalam spesies. Ketika Ayano memutuskan untuk bertahan hidup ia terlihat betul tidak memosisikan dirinya sebagai individu belaka, tetapi sebagai individu yang adalah bagian dari sebuah keluarga yang ingin ia jaga kelangsungan eksistensinya.

Tetapi mungkin itu masih belum sepenuhnya tepat. Pasalnya, yang ada di benak Ayano adalah bagaimana agar anaknya itu terus hidup, tumbuh dengan kebaikan-kebaikan yang bisa diberikan olehnya selaku sang ibu. Memang pada akhirnya yang dilakukan Ayano ini adalah untuk menjaga kelangsungan eksistensi keluarganya, tetapi itu dilakukannya secara tidak sadar, atau separuh tidak sadar. Ayano tentulah berpikir ia mengambil keputusan itu atas kehendaknya sendiri, dalam arti ia tidak sedang berada di dalam kendali atau manipulasi siapa pun. Sayangnya, bukan itu yang terjadi jika kita membaca hal ini dengan bertolak pada teori gen egois–the selfish gene.

Teori ini, yang diperkenalkan oleh Richard Dawkins, meyakini bahwa setiap organisme pada dasarnya berada dalam manipulasi gen-gen di dalam tubuhnya. Gen-gen itu memiliki kehendak dan mereka melakukan berbagai cara untuk membuat inang merekasi organisme itumelakukan hal-hal yang berpotensi membuat kehendak mereka ini terwujud. Dan kehendak mereka ini sederhana saja: menjaga kelangsungan eksistensi spesies mereka sendiri lewat diteruskannya informasi-informasi genetik yang mereka miliki ke gen-gen yang kelak berada di tubuh inang berikutnya. Itu artinya ketika Ayano memutuskan bahwa ia akan bertahan hidup demi kelangsungan hidup anaknya itu, gen-gen manipulatif di dalam dirinyalah yang sebenarnya mengambil keputusan itu, lantas membisiki Ayano untuk mengambil keputusan yang sama. Ayano tidak menyadari keberadaan gen-gen di dalam tubuhnya sampai sejauh itu, sehingga ia pun berpikir bahwa bisikan itu tentulah datang dari dirinya sendiri.

Maka, terkait kasus Ayano itu, kita mungkin bisa berkata seperti ini: Ayano bertahan hidup karena evolusi menghendaki demikian. Evolusi berpikir bahwa akan buruk dampaknya bagi kelangsungan eksistensi keluarga Ayano jika Ayano sampai bunuh diri dan ia pun mengandalkan sejumlah pihak untuk mencoba membuat Ayano bertahan, melawan kuat-kuat dorongannya untuk mengakhiri hidupnya itu. Dan salah satu pihak yang diandalkan oleh evolusi adalah gen-gen egois yang manipulatif di dalam tubuh Ayano itu. Gen-gen ini sendiri pada dasarnya patuh pada hukum evolusi, bahwa mereka ada untuk menjaga kelangsungan spesies mereka sendiri. Bertolak pada pemahaman ini, ternyatalah kita hidup di dunia ini tak lebih dari sekadar mencoba mewujudkan apa yang dikehendaki oleh evolusi. Kita, rupanya, tidak hidup untuk diri kita sendiri seperti yang mungkin selama ini kita yakini. Justru kita hidup untuk sesuatu hal abstrak di luar diri kita yang mengendalikan kita, yang memerangkap kita di dalam hukum yang ditetapkannya.

Dan apakah dengan menyadari hal ini kita jadi kecewa? Bisa iya, bisa tidak. Toh tanpa menyadari hal tersebut pun banyak orang di dunia ini meyakini bahwa mereka hidup bukan untuk diri mereka sendiri melainkan untuk sesuatu transendental di luar diri mereka atau sesuatu spiritual di dalam diri mereka, dan mereka terperangkap di dalam hukum yang ditetapkan sesuatu itu. Dengan demikian menyadari hal tersebut barangkali tak lebih dari semacam perluasan saja. Intinya toh memang ada sesuatu hal yang menggerakkan kita, yang memerangkap kita sekaligus menggerakkan kita. Sederhananya kita tinggal memilih saja mau diperangkap dan digerakkan oleh yang mana.

Namun, dalam sesuatu hal agaknya ada perbedaan yang mendasar. Yang dimaksud adalah relasi kuasa; seberapa kaku dan seberapa sakralnya relasi kuasa ini.

Ketika kita berserah untuk diperangkap dan digerakkan oleh sesuatu transendental di luar diri kita, umumnya kita terjebak di dalam sebuah relasi kuasa yang sangat timpang dan sangat kaku, dan menariknya kita sendirilah sebenarnya yang mengongkretkan dan melanggengkan kekakuan iniagama-agama besar, misalnya, selalu memiliki ritual-ritual dan aturan-aturan sosial yang harus dijalankan secara ketat dan ada orang-orang yang dipercaya untuk menjaga agar hal ini dilakukan. Kasusnya berbeda ketika kita berserah kepada sesuatu spritual di dalam diri kita, di mana relasi kuasa itu cenderung cair dan senantiasa abstrak sebab nyaris segala bentuk konkretisasi dalam wujud ritual-ritual diposisikan sebagai tambahan belaka, sebagai pelengkap yang tak benar-benar harus dilengkapi. Lalu bagaimana jika kita “berserah” kepada evolusi, sesuatu yang juga di luar diri kita dan sama-sama abstrak namun ia dikonkretkan oleh ilmu pengetahuan? Bisa jadi, relasi kuasa itu jauh lebih cair lagi.

Pasalnya kendati kita meyakini bahwa seperti itulah sejatinya kehidupan ini bekerja kita sesungguhnya bisa saja memilih untuk keluar darinya atau paling tidak mencoba cara kerja yang berbeda. Kita memang menyadari bahwa kita bertahan hidup karena evolusi menghendaki demikian, karena gen-gen egois di dalam diri kita memanipulasi kita untuk tidak menyerah, tetapi kita sesungguhnya punya pilihan untuk melawan hal ini. Kita bisa mengatakan peduli amat! kepada evolusi, atau taik kucing! kepada gen-gen egois di dalam diri kita itu, dan kita pun menyerahmengakhiri hidup kita sendiri. Secara teori ini tak begitu sulit, sebab tak akan ada orang-orang yang mau repot-repot menjaga agar kita tetap berpikir bahwa berserah kepada evolusi dan gen-gen egois itu adalah hal baik. Tetapi pada praktiknya mungkin sama saja sulitnya. Itu karena di realitas yang kita jalani ketiga tipe berserah ini ada dan sangat mungkin sewaktu-waktu mereka berkelindan. Misalnya, seseorang mungkin saja mendorong kita untuk bertahan hidup dan berserah kepada Tuhan padahal yang sedang coba kita lakukan adalah keluar dari tipe berserah yang lain. Dan jangan salah, sebab kita telah bertahan hidup sejauh ini kita pun mau tak mau memiliki ikatan yang terbilang kuat dengan diri kita sendiri, terutama diri fisik kita, tubuh biologis kita. Ini semakin menyulitkan kita berhenti berserah. Jangankan itu, ketika lapar saja kita tetap makan meski kita tahu betul kita sesungguhnya tak ingin makan lagi. Ketika haus saja kita tetap minum meski kita tahu kita sesungguhnya tak ingin hidup lebih lama lagi. Kita tak punya tekad yang cukup kuat seperti halnya Kim Yeong-hye, salah tokoh di novelnya Han Kang yang terkenal itu, Vegetarian (Baca, 2017; terj. Dwita Rizkia), yang pada akhirnya terobsesi untuk menjadi pohonbertahan hidup tanpa harus makan dan minum, tanpa harus bergantung pada dikorbankan-paksanya organisme-organisme lain.


Mengapa manusia bertahan hidup? Mengapa kita bertahan hidup? Pada akhirnya bagi sebagian orang, bagi sebagian besar orang, pertanyaan ini mungkin tidak penting. Sama sekali tidak penting. Dan mereka tentu tidak akan ambil pusing kalaupun kita paparkan kepada mereka fakta-fakta betapa besarnya dampak negatif yang diakibatkan oleh eksistensi manusia di dunia ini. Mereka tak akan mau peduli, kendatipun fakta-fakta itu tak terbantahkan lagi.

Katakanlah seseorang hidup di realitas modern saat ini. Ia, tak mungkin tidak, akan bergantung kepada penggunaan listrik. Dan bagaimana listrik ini sampai ada? Dari apa ia diolah? Cahaya matahari? Jangan harap. Kemungkinan besar batubara. Lalu katakanlah ia pun bepergianuntuk bekerja, jalan-jalan, atau apa pun itu. Maka ia pun bergantung kepada penggunaan kendaraan bermotor, yang artinya ia turut andil dalam semakin tercemarnya udara yang dihirup bukan hanya oleh manusia tetapi juga organisme-organisme lain, yang berarti ia pun bergantung kepada pengolahan minyak bumi dan tentu saja penggaliannya, yang berarti secara tidak langsung ia pun punya peran dalam perusakan (bentangan) alam di planet ini. Atau katakanlah hal yang paling sederhana: makan. Kalau ia bukan vegetarian dan ia mengonsumsi daging, itu berarti ia bergantung kepada dikorbankannya hewan-hewan tertentu untuk kelangsungan hidupnya, sedangkan ia akan mengutuk segala bentuk pengurbanan manusia, yang sejatinya adalah hewan juga, untuk kelangsungan manusia lain.

Konon yang membuat manusia berbeda dari hewan-hewan adalah kapasitas otaknya yang luar biasa yang memungkinkannya memiliki kesadaran; tapi bahkan dengan adanya kesadaran ini pun manusia seringkali memilih untuk tidak menggunakannya, sehingga mereka, dalam hal-hal tertentu, sesungguhnya sama saja dengan hewan-hewan itubuas, acuh tak acuh, pongah, dan bodoh. Lalu kalaupun ia vegetarian, sebagai manusia yang beradab ia tetap bergantung kepada aktivitas memasak entah itu untuk menumis, merebus, memepes, atau yang lainnya. Di sini ia bisa bergantung kepada ketersediaan gas atau minyak, atau listrik. Belum lagi kendaraan bermotor sebab bahan-bahan makanan yang dimasaknya itu tentu tidak sedari awal ada di sana semua. Sama saja. Mau itu vegetarian atau bukan, mau itu tukang bepergian atau bukan, mau itu aktivis, dokter, presiden, tukang sol sepatu, penulis, kritikus, pebisnis, atau siapa pun, biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggung eksistensi manusia di dunia ini sangatlah besar, bahkan terlalu besar jika dibandingkan dengan kontribusi positif mereka untuk dunia ini. Dan mereka masih saja merasa bahwa mereka layak hidup, bahwa kehidupan ini ada untuk mereka jalani dan nikmati. Mungkin benar yang dikatakan Mai, salah satu tokoh di cerpen saya yang berjudul “Mimpi-Mimpi Erina” (ideide.id, 19 Februari 2019), bahwa manusia itu pada dasarnya egois; hanya memikirkan dirinya sendiri saja; hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri saja.

Antroposentrisme. Manusia terjebak pada antroposentrisme. Suka tidak suka, begitulah kenyataannya. Dan sementara sangat mudah–seakan-akan alamiah–bagi manusia untuk terjebak pada–bahkan dibutakan oleh–antroposentrisme, melepaskan diri darinya sangatlah sulit. Dan itu berlaku juga untuk para penulis, termasuk para penulis yang tulisan-tulisannya sangat bisa kita nikmati seperti Linda Christanty, Dea Anugrah, dan Yusi Avianto Pareanom. Di sebuah status Facebook-nya yang khas beberapa waktu yang lalu Linda Christanty mengatakan bahwa (tujuan) manusia hidup (adalah) untuk mengumpulkan kenangan, dan tentu saja di sini Linda memosisikan (si) manusia sebagai pusat. Di esai-esai geografis-nya yang apik dalam Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya (Mojok, 2019), Dea Anugrah sama sekali tak membahas bagaimana realitas ini terlihat di mata entitas-entitas non-manusia atau manusia-manusia non-antroposentris. Dalam novelnya yang legit namun cenderung misoginis(?), Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi (Banana, 2016), Yusi Avianto Pareanom menggambarkan dengan sangat hidup bagaimana manusia-manusia yang heroik bertarung dengan keras dan kejamnya realitas, dan nyaris tak ada ruang bagi sosok non-antroposentris di novelnya ini. Sedikit-banyak, ini menunjukkan bahwa di mata para penulis kita antroposentrisme agaknya kadung diterima begitu saja; bisa jadi dianggap sesuatu yang natural, yang tak terelakkan, yang karena itu mungkin tak perlu juga dipersoalkan. Tentu saja kita bisa tak bersepakat dengan anggapan ini. Memang agaknya antroposentrisme adalah sesuatu hal yang natural bagi manusia sebagai bagian dari hukum evolusi yang memerangkap dan menggerakkan mereka, tetapi ia perlu dipersoalkan sebab faktanya ia adalah akar atau titik tolak dari berbagai perbuatan yang menyebabkan kerusakan-kerusakan dalam skala besar di kehidupan inibukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi organisme-organisme lain.

Namun, mungkin untuk saat ini kita sudahi saja sampai di sini. Toh, apa yang kita ocehkan sejauh ini, mungkin tak akan juga membawa kita ke mana pun. Kita akan tetap di titik yang itu-itu saja sebab pada akhirnya setiap orang akan menentukan sikapnya sendiri terhadap antroposentrisme, sedangkan terkait pertanyaan mengapa kita bertahan hidup tadi mereka bisa saja memilih untuk tidak menjawabnya atau menjawabnya sesuai dengan kepentingan mereka sendiri—yang bisa jadi benar-benar berbeda dengan kepentingan kita. Mereka, misalnya, jika beranggapan bahwa bertahan hidup itu penting, bisa saja menggaungkan apa yang dikemukakan si narator film animasi The Sky Crawlers (Warner Bros, 2008) menjelang film berakhir, yakni bahwa kita hidup, melalui jalan yang sama lagi dan lagi, untuk menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak kita temukan, untuk menyadari hal-hal yang sebelumnya tidak kita sadari, yang dengan itu cara pandang kita atas hidup yang kita jalani itu mungkin berubah. Atau bisa juga mereka sekadar mengafirmasi apa yang dikatakan Celty Sturluson, salah satu tokoh penting dalam film animasi Durarara!! (Brains Base, 2010), kepada seorang remaja perempuan yang ia selamatkan dari sebuah percobaan bunuh diri yang benar-benar bisa membuatnya mati, yakni bahwa kehidupan, juga menjalaninya, sesungguhnya tidaklah seburuk yang kita pikirkan.

Itu jika mereka beranggapan bahwa bertahan hidup itu penting, jika mereka masih membiarkan diri mereka terjebak pada–dan bahkan dibutakan oleh–antroposentrisme. Jika tidak, jika mereka sudah berhasil membebaskan diri dari jerat antroposentrisme, mungkin inilah kiranya yang akan mereka katakan: kita bertahan hidup, tak pelak lagi, karena kita menciptakan berbagai macam fiksi antroposentris yang mengatakan bahwa bertahan hidup itu baik, bahkan sangat baik, bagi kita.(*)

Bogor, 12-13 Maret 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *