Sejumlah Kehidupan di Kumaroichi

Berdiri di sebuah ruas jalan di Kumaroichi, matanya tertuju ke sebuah jam digital besar yang tertanam di tubuh sebuah pusat perbelanjaan. 21:59. Itu artinya kurang dari satu menit lagi sampai segala sesuatu yang dilihatnya berubah bentuk, sampai segala macam cahaya yang ada di sekitarnya meredup padam.

Ia tak lagi panik seperti di kali pertama. Ia juga tak lagi berusaha melarikan diri, seperti di kali ketujuh. Ia tahu apa pun yang akan dilakukannya sesuatu itu akan terjadi. Akan dan pasti terjadi. Ia hanya perlu menunggu, berdiri seperti itu, memastikan dirinya yang saat ini menikmati detik-detik terakhirnya yang mungkin berguna–jika bukan berharga–baginya.

Dan tibalah waktu yang ditentukan itu. 22:00. Ia hanya punya waktu sepersekian detik untuk menyaksikan benda-benda yang tertangkap matanya terus berganti rupa menjadi benda-benda asing; membuat kota itu pun dengan sendirinya terasa seperti kota asing. Dan yang tersisa setelahnya adalah hitam. Hitam yang benar-benar hitam.

Dan setelah beberapa lama, seiring si tokoh dalam cerita ini membuka mata, hitam itu mulai tersingkirkan, dilemahkan cahaya, dan sebuah lanksap baru yang jauh berbeda muncul menggantikan lanskap yang digambarkan di awal tadi. Dan itu hanya berarti satu hal: kehidupan-singkat si tokoh utama yang berikutnya telah dimulai.


Sebuah kamar. Aku tak mengenalinya. Lebih tepatnya, belum mengenalinya. Langit-langit putih, dengan neon bulat menyala di titik-pusatnya. Dinding yang dicat hijau toska. Televisi dalam keadaan mati. Ikan-ikan mungil berenang-renang di sebuah akuarium. Gorden tersibak, meski jendela-jendela tertutup. Dari arah belakang di ruangan lain suara air mengalir; ditingkahi bunyi kering benda-benda keras yang berbenturan.

Seseorang di sana; sosoknya perlahan mulai tergambar di benakku. Seorang lelaki. Sebagian rambutnya telah memutih dan sepasang mata padamnya menyimpan rahasia. Apakah ia suamiku, atau ayahku? Ingatanku mengatakan bukan. Aku berhenti sejenak memikirkan semua itu; memejamkan mata. Kubiarkan ingatan-ingatan itu merasuk-masuk ke dalam diriku.

Namaku Kunieda Nanami. Setidaknya itulah yang dikatakan ingatanku. Aku seorang perempuan dan umurku tiga puluh dua. Aku sedang berada di sebuah kamar yang bukan kamarku, tetapi aku sedikit mengenalinya, itu karena semalam aku memasuki kamar ini dalam keadaan sadar dan sebelum aku bercinta dengan lelaki itu mataku sempat menangkap setiap hal yang ada di kamar ini, dan mengingatnya.

Apakah aku seorang pekerja seks komersil? Bukan. Apakah aku sesosok android? Juga bukan. Aku manusia biasa dengan daging dan darah yang biasa, dengan kehangatan dan degup jantung yang juga biasa. Lelaki itu pun manusia, sepertiku. Dan ia adalah klienku.

Kami tidak berpacaran; bukan dua orang yang saling mencintai dan tengah merencanakan sebuah pernikahan. Lalu kenapa aku bisa berada di kamar ini, dan kenapa semalam aku bercinta dengannya, itu sebenarnya bukan sesuatu yang boleh kukatakan; semacam rahasia yang harus kujaga sebagai konsekuensi dari apa yang kukerjakan.

Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin tak apa-apa juga. Membocorkan rahasa itu padamu mungkin bukanlah sesuatu yang membahayakanku. Lagipula, kau bukanlah siapa-siapa, bahkan bukanlah apa-apa. Kau hidup dalam fantasiku, dan ketika aku berbicara seperti ini padamu aku sesungguhnya sedang berbicara kepada sesuatu yang aku ciptakan sendiri dan orang-orang tak mengetahuinya. Orang-orang, siapa pun itu, tak mengetahuinya.

Maka berbahagialah, karena kau beruntung. Setidaknya aku akan memberitahumu apa sebenarnya pekerjaan yang kumaksud tadi dan apa-apa yang telahdan tengah terjadidi antara aku dan lelaki itu. Jangan dulu menyela. Simpan semua pertanyaanmu untuk kaulontarkan nantisetelah aku selesai bercerita.


Kehidupan ke-32. Subjek kami kini kembali menjadi seorang perempuan, dan ia melakukan sesuatu yang hampir sama dengan apa yang dilakukannya di kehidupannya yang ke-25. Bedanya adalah, di kehidupan ke-25 itu ia seorang laki-laki. Wujud fisiknya jauh berbeda, tetapi kami bisa merasakan diri yang hidup di dalamnya masihlah sosok yang sama.

Kunieda Nanami. Tiga puluh dua tahun. Belum menikah. Tak memiliki seorang pun yang bisa dikategorikan teman dekat. Kami mencatat beberapa hal ini di lembar pengamatan.

Ada pergerakan yang menarik jika kami sandingkan dengan data-data yang kami peroleh di tiga kehidupannya yang sebelumnya. Dari anak SD kelas 3, ke seseorang di usia 80, lalu seorang mahasiswa di tahun kedua kuliah. Dari sesosok bocah yang pemarah, ke seorang mantan yakuza yang sakit-sakitan, lalu seorang penggila aidoru tingkat tinggi. Dari jiwa yang polos dan bersih-murni, ke jiwa yang membangkai dan membusuk, lalu jiwa yang tersamarkan rasa sakit.

Setidaknya pergerakan yang tampak di empat kehidupan terakhirnya ini cukup menonjol untuk membuat kami mencermatinya dengan lebih saksama, kalau-kalau ini adalah indikasi dari perubahan drastis yang kami harap-dambakan sejak lama. Jika benar, maka di kehidupannya yang ke-32 ini sesuatu di luar batas kewajaran akan terjadi; sesuatu yang akan membuat kami tercengang dan tergerak untuk menekan tombol merah sehingga siklus kehidupan subjek kami ini pun seketika berakhir, dan ia akan kembali menjalani kehidupan nyatanya yang biasa; sesuatu yang benar-benar bisa membuat kami tersenyum lebar.

Namun, jikapun tidak, jikapun di kehidupannya yang ke-32 ini sesuatu istimewa itu belum juga terjadi, pergerakan menarik yang kami singgung tadi telah cukup membuat kami yakin bahwa subjek kami yang satu ini tak akan mengecewakan kami. Barangkali, sesuatu istimewa itu akan kami dapati di kehidupannya yang ke-33. Begitu kami bisa menghibur diri.

Kini lihatlah di layar. Subjek kami akhirnya bangkit dan mendapati dirinya dalam keadaan telanjang. Ia tampak kedinginan, meski berusaha keras mengingkarinya. Apakah ia terkejut? Jelas tidak. Ia sudah cukup berpengalaman untuk memahami bahwa kehidupan yang dijalaninya ini sama fiktifnya dengan 31 kehidupannya sebelumnya, dan dengan itu ia menjadi tahu bahwa yang perlu dilakukannya agar ia tetap baik-baik saja adalah membiarkan segala sesuatu yang datang padanya memasukinya, meresap ke dalam dirinya, menjadi bagian dari dirinya.

Ia berjalan meninggalkan ruangan itu, dan memasuki ruangan lain. Di sana, di depan sesuatu yang bisa kausebut tempat mencuci piring, seorang lelaki berdiri, memunggunginya. Ia adalah sosok krusial bagi subjek kami di kehidupannya yang kali ini.

Sekejap kemudian, subjek kami memeluk lelaki itu, dari belakang. Ketika kami menggeser sudut-pengambilan-gambar kami bisa melihat subjek kami menekankan payudaranya kuat-kuat ke punggung lelaki itu. Lelaki itu sejenak berhenti bergerak. Matanya diarahkannya ke dinding hijau di hadapannya, yang tak memantulkan apa-apa. Subjek kami tersenyum.


Dalam catatan hariannya yang terakhir, Wakatabe-san menceritakan bagaimana ia akhirnya melakukan apa yang selama lebih dari tiga bulan menghantuinya: membunuh perempuan itu.

Membacanya bukan sesuatu yang menyenangkan, mengingat penggambaran yang diberikannya kelewat detail dan menjijikan, membuat sesuatu di dalam lambungku–kalau bukan diriku–bergerak bangkit dan menggerogotiku; melemahkanku.

Apakah ia benar-benar melakukan apa yang dituliskannya itu? Apakah ia sanggup melakukan sesuatu sekeji itu?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini belingsatan di ruang kepalaku. Setelah menyadari sama sekali tak ada gunanya aku mempertanyakan hal-hal itu, aku putuskan untuk melupakannya. Beberapa kali lagi di kesempatan berbeda aku membaca catatan harian terakhir Wakatabe-san itu dengan ketelitian yang kukondisikan semakin tinggi dari pembacaan ke pembacaan, dan dengan sendirinya aku menjadi terbiasa.

Di dua pembacaan terakhir, aku sama sekali tak terganggu, meski perbuatan tak manusiawi yang dilakukan Wakatabe-san itu seperti dengan nyata diputar ulang di sebuah layar hologram besar di hadapanku.

Siapa perempuan yang kumaksud? Ia adalah seseorang yang dibenci Wakatabe-san, sekaligus juga dicintainya.

Ia pertama kali bertemu perempuan itu di akhir Juni tahun lalu, di sebuah kedai sushi paling terkenal di Kumaroichi.

Untuk apa Wakatabe-san bertemu perempuan itu? Untuk mengajaknya bicara. Atau, lebih tepatnya, meminta perempuan itu mendengarnya bicara.

Ada sebuah perusahaan tak kasat mata yang menyediakan jasa semacam ini; kau bisa meminta perusahaan itu mengirimkan padamu seorang perempuanatau laki-lakiuntuk menemuimu dan menemanimu bicara, dengan tarif cukup mahal yang dihitung per jam dan harus kaubayarkan semua di awal.

Tentu saja, itu berarti kau seseorang yang kesepian, atau tak begitu kesepian namun kadung memiliki banyak uang dan kau sekadar ingin menghambur-hamburkannya.

Wakatabe-san termasuk yang pertama. Istrinya yang dinikahinya sembilan belas tahun silam meninggalkannya di penghujung musim semi dua tahun lalu, sedangkan anak perempuannya yang dicintainya meninggalkannya dengan cara lain (baca: bunuh diri) di awal musim gugur di tahun yang sama.

Ia tak memiliki adik, kakak, atau orang tua. Tidak lagi, sebab pernikahannya sembilan belas tahun silam itu membuat mereka memutuskan hubungan dan ikatan dengannya.

Teman dekat? Jangan harap. Sejak kecil Wakatabe-san tak pernah berusaha berteman dengan siapa pun. Ia membenci orang-orang di sekitarnya, sebagaimana ia membenci dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang dikemukakannya di catatan-catatan hariannya.

Wakatabe-san menyukai perempuan itu sejak pertama kali ia melihatnya.

Mata yang sedikit besar dengan ujung yang meruncing. Hidung yang melengkung dan tipis. Bibir atas yang lumayan tebal dan dominan.

Secara tak masuk akal apa-apa yang ditemukan Wakatabe-san di wajah perempuan itu mengingatkannya pada anak perempuannya, anaknya satu-satunya yang menjatuhkan diri dari balkon kamar apartemen mereka setelah menuliskan pesan-selamat-tinggal berisi enam kata saja: Aku tak lagi menginginkan semua ini.

Setiap kali memandangi perempuan itu, Wakatabe-san selalu terkenang akan anaknya; obrolan-obrolan acak mereka di meja makan, persanggamaan-persanggamaan liar mereka di tempat tidur.

Ia terkadang menduga perempuan itu adalah reinkarnasi dari anaknya, dan belakangan ia mencoba meyakininya.

Sejak pertemuan pertamanya dengan perempuan itu, Wakatabe-san sudah membayangkan mereka berada di kamar apartemennya dan saling menjamah tubuh satu sama lain, mereguk rasa sakit dan kepedihan satu sama lain.

Ini menyiksanya, sebenarnya. Tetapi ia menikmatinya.

Tentu saja Wakatabe-san tak mengutarakan kepada perempuan itu apa yang berkecamuk di dalam kepalanya.

Perempuan itu tidak dikirim untuk meladeninya bercinta, melainkan sekadar menemaninya menghabiskan waktu dengan bicara.

Wakatabe-san terkesan atas fleksibilitas perempuan itu; mereka telah bertemu sekian kali di sejumlah tempat berbeda dan membincangkan hal-hal yang juga berbeda dan selalu saja perempuan itu mampu mengimbangi logika berpikirnya, dan secara halus menjadikan pertemuan mereka itu sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang hangat, dan menyenangkan.

Dalam hal ini perempuan itu juga mengingatkannya pada tahun-tahun awal rumah tangganya bersama mantan istrinya, dan untuk yang satu ini ia sedikit kesal.

Apakah ini kebetulan belaka atau kehidupan sedang mempermainkanku? Begitu Wakatabe-san bertanya, di salah satu catatan hariannya.

Tak ada yang perlu menjawabnya, tentu, sebab pertanyaan itu pastilah dilontarkannya kepada dirinya sendiri.

Semakin sering bertemu dan menghabiskan waktu dengan perempuan itu, semakin Wakatabe-san menyadari ia memang menyukainya, membutuhkannya, dan menginginkannya.

Ia lalu mulai mencari-cari celah yang bisa ia masuki, yang dengan begitu ia bisa mengubah sesuatu yang semula tak mungkin menjadi mungkin, dan ia berhasil melakukannya di pertemuannya dengan perempuan itu yang ke-28—lima bulan yang lalu.

Mereka bersanggama untuk pertama kalinya. Itu sebuah malam yang panjang; dibutuhkan lebih dari sekadar kesabaran dan daya tahan untuk membuat perempuan itu mengerti bahwa mereka bisa melakukan persenggamaan itu meskipun perusahaan tempat perempuan itu bekerja benar-benar tak memperbolehkan hal ini terjadi.

Mereka bersenggama, dan bersenggama. Itu yang selalu terjadi di pertemuan-pertemuan mereka setelahnya.

Apakah ia mencintai perempuan itu? Menurutnya iya. Tapi apakah perempuan itu juga mencintainya, dengan definisi dan perwujudan yang sama? Ia tak pernah tahu.

Persis setelah ia bersanggama untuk pertama kalinya dengan perempuan itu, Wakatabe-san merasakan dorongan yang kuat untuk menyakiti perempuan itu, bahkan membunuhnya.

Ia membenci perempuan itu, entah karena apa.

Belakangan ia menyadari bahwa rasa benci ini tidak terlahir begitu saja melainkan dari menguatnya ingatan-ingatannya akan anak perempuannya yang bunuh diri itu, yang dengan egoisnya membebaskan diri dari kehidupan ini lebih dulu dan membuatnya terpaksa harus melalui hari demi hari setelah itu seorang diri, benar-benar seorang diri.

Pada masa ini, ia sudah lebih jauh meyakini bahwa perempuan itu memanglah perwujudan dari sosok anaknya yang telah meninggal itu, dan dengan keyakinan ini ia jadi semakin tenggelam dalam fantasi-fantasi gelapnya di mana di sana ia berulangkali menyakiti si perempuan dan membuatnya mati.

Di saat yang sama, dirinya yang lain, jika itu ada, tak menyukai hal ini, dan tak menginginkan hal ini terwujud.

Sekuat tenaga dirinya yang lain ini melawan dirinya dan menyamarkanjika bukan merusakfantasi-fantasi gelapnya; memecah-mecah kebenciannya menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak berarti.

Tetapi tentu, kebencian bukan sesuatu yang bisa diatasi sesederhana itu, semudah itu, terlebih bagi seseorang yang pada dasarnya memanglah pembenci seperti Wakatabe-san.

Ia kemudian selalu berada dalam keadaan was-was setiap kali berhadapan dengan perempuan itu; ia khawatir dirinya yang lain itu tak cukup kuat untuk menahannya mewujudkan fantasi-fantasi gelapnya.

Dan terpikirlah sesuatu yang menurutnya adalah solusi dari kegelisahannya itu: ia harus meninggalkan kamar apartemennya dan menghuni kamar apartemen lain; dengan cara itu ia mungkin bisa sedikit-banyak menghindarkan diri dari ingatan-ingatan kelamnya akan anaknya.

Dan ternyatalah ia keliru.

Di kamar apartemen barunya itu, di hari kedua perempuan itu berada di sana atas permintaannya, dirinya yang lain itu menghilang.

Ia membunuh perempuan itu dengan cara-cara yang sangat keji; membuatnya kemudian menjadi buronan polisi paling dicari di Kumaroichi.

Poster-posternya tersebar di seluruh penjuru kota, dengan uang dalam jumlah besar tercantum di sana sebagai hadiah.


Si perempuan bernama Kunieda Nanami ini, seharusnya, baru akan meninggalkan kehidupan-singkatnya yang ke-32 empat belas jam lagi. Itu setidaknya yang kuharapkan, dan kurencanakan, sebagai penciptanya.

Tapi sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi; seolah-olah ada kekuatan lain yang turut menggerakkan dunia yang kuciptakan itu dan menentangku, dan menantangku.

Perempuan itu mati. Seseorang membunuhnya dan kemudian menghajar jasadnya dan setelah itu memotong-motongnya, dan meninggalkan potongan-potongan tubuhnya itu begitu saja di lantai dapur sebuah kamar apartemen.

Kasihan sekali ia. Sungguh aku bersedih.

Aku tadinya berencana menghadiahinya semacam kebahagiaan di kehidupan-singkatnya yang ke-37, yang dengan itu ia bisa memahami bahwa hidup sekadar melalui waktu hingga segala sesuatunya lenyap dan berlalu, seberapa omong kosong dan tak pantas diingat pun kehidupan itu.

Apakah ia justru memperoleh kebahagiaan itu, setelah kematiannya tadi? Aku tak tahu. Satu-satunya yang kutahu saat ini adalah diriku rupanya bukanlah pusat dari segala sesuatu, seperti yang selama ini kuyakini.

Ada sesuatu misterius yang memiliki kekuatan yang mungkin lebih besar dari kekuatanku, yang bisa jadi dengan kekuatannya itu ia menciptakan seorang pencipta sepertiku. Dan aku sudah sepenuhnya ingin menghilang, hanya dengan memikirkan dugaanku itu tepat sasaran.(*)

–Bojongpicung, Juli 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *