Bayangan Hitam

Terbangun menjelang tengah malam dan didera rasa haus yang teramat gila, kini ia berdiri di balkon kamar, sendirian, nyaris tak mengenakan apa pun kecuali kaus oblong tipis. Ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan, seolah-olah tengah berusaha merasakannya; seakan-akan dengan cara ini ia tengah mencoba menyingkirkan sejumlah hal yang mengganggunya. Misalnya, pesan WhatsApp tak menyenangkan dari adiknya dua hari yang lalu. Adiknya itu berkata bahwa jika saja ayah dan ibunya masih hidup mestilah mereka akan kecewa—dan bahkan menderita—mendapati ia, anak kesayangan mereka, memilih jalan hidup yang keliru. Padahal kamu bisa menulis. Padahal kamu sudah bisa hidup dari menulis, tambah adiknya itu, di pesan tersebut. Ia mencoba mengabaikan pesan adiknya ini dalam arti tak membalasnya dan berusaha tak memikirkannya, dan adiknya itu pun tak mengiriminya pesan-pesan lain. Tetap,i ia sudah kadung membacanya. Dan ia rupanya begitu terganggu dan tak benar-benar bisa mengabaikannya.

Seringkali, untuk membantunya mengabaikan sesuatu seperti itu, ia merokok. Dan itu pulalah yang dilakukannya kini. Satu isapan panjang, dan ia mengepulkan asap dari hidungnya. Satu isapan panjang lagi, dan ia mengepulkan asap dari mulutnya. Keduanya dilakukannya dengan perlahan, seakan-akan ia khawatir ketika asap itu lenyap sesuatu tak menyenangkan yang tengah berusaha dibuangnya itu justru kembalimenyergapnya.

Di hadapannya tentu bukan sebuah layar kosong, melainkan langit dengan warna gelap. Bukan biru ataupun hitam; mungkin campuran keduanya. Apabila ia tak menengadah, segera matanya menemukan bangunan-bangunan dengan nyala lampu di beberapa titik tubuhnya, juga jalan yang betapa lengang yang membuatnya terlihatdan terasasedikit lebih lapang, dan lebih panjang. Ada tentu bebunyian yang sampai kepadanya, baik dari jalan jauh di bawahnya itu maupun dari ruangan tepat di belakangnyakamar hotel tempat ia menginap. Sewaktu-waktu, seolah-olah didesain sebagai derau yang berfungsi menguatkanatau sekadar mengusikkomposisi, seseorang di atas kasur di kamar itu, seorang lelaki yang tak pernah benar-benar dikenalnya dan mestilah juga tak benar-benar mengenalnya, akan mengeluarkan suara-suara. Benar-benar hanya suara-suarabukan kata-kata. Sebenarnya terdengar juga olehnya desis AC, detak jam dinding, sibakan gorden, rengekan tipis kusen pintu, getaran ponsel, atau yang lebih dekat lagi dengannya dari itu semua: degup jantungnya sendiri. Dan di atas semua itu, seperti yang selalu terjadi, ia pun mendengar bebunyian kering yang diyakininya bersumber dari sosok-sosok hitam di sekitarnya; sosok-sosok serupa bayangan namun dalam wujud tiga dimensi, yang sejauh yang ia tahu tak melakukan apa pun selain berdiri diam dan mengeluarkan bebunyian kering itu, di dekatnya. Tiga sosok bayangan hitam. Satu di kiri, satu di kanan, satu di belakang.


Bayangan hitam itu awalnya hanya satu. Ia tak tahu kapan persisnya untuk pertama kalinya, juga dari apa dan untuk apa, bayangan tersebut muncul. Tahu-tahu ketika ia menyadarinya bayangan tersebut sudah ada di sekitarnya, seperti mengamatinya, seperti menghantuinya, seperti ingin mencekiknya. Bebunyian yang ia yakini menyeruak dari bayangan tersebut juga tak pernah ia pahami. Bukan kata, hanya bebunyian yang terkesan acak. Sangat acak.

Mula-mula sempat ia begitu terusik oleh bebunyian itu. Bahkan di momen-momen tertentu, misalnya ketika ia sedang teringat sesuatu yang buruk dan ia tiba-tiba merasa lelah, ia menduga dari bebunyian itu terlahir bau, semacam bau, yang busuk, yang siap menghabisinya dengan gigitan-gigitan menyakitkan di lengan, leher, bahu, pinggang, betis, atau kepala. Pada suatu kesempatan ia dengan sengaja mengamati bayangan hitam tersebut, yang kali itu baru ada satu, begitu lama, mungkin nyaris setengah jam, sekadar untuk mencari tahu sekaligus memastikan bahwa apa yang dirasakan dan didengar dan dilihat dan diciumnya itu memanglah nyata, memang ada dan benar-benar ada. Dan bayangan hitam tersebut tak beranjak sedikit pun, bahkan tak bergerak sedikit pun. Dan bau busuk itu, dan bebunyian asing itu, dan sosoknya yang hitam-kelam itu, tetap sama. Tetap begitu-begitu saja.

Sejak saat itu ia menjadi tahu bahwa kehadiran bayangan hitam tersebut bukanlah untuk menyakitinya. Tidak lagi terbayangkan di benaknya bahwa bayangan tersebut akan seketika melakukan sebuah gerakan berbahaya yang tak terduga dengan maksud melukainya atau semacamnya. Ia seperti menerima kehadiran bayangan hitam itu, meski ia sungguh tak tahu apa peran bayangan hitam tersebut dalam hidupnya. Dan suatu ketika bayangan tersebut tiba-tiba bertambah satu, dan bertambah satu lagi beberapa lama setelahnya.

Sekali waktu pernah ia terpikir untuk menghampiri bayangan-bayangan tersebut, dan mungkin menyentuhnya, atau sekadar membauinya, merasakan kehadirannya dari dekat, namun ia urung melakukannya. Ada sesuatu yang kemudian ia pahami dan ia yakini benar, yakni bahwa bayangan-bayangan tersebut rupanya selalu baru muncul ketika ia sedang sendirianatau menyendiridan larut memikirkan sesuatu hal tentang dirinya, atau tentang apa yang baru saja dilakukannya, atau tentang sejumlah hal yang beradaatau terjebakdi sekitarnya, atau tentang kehidupan yang dijalaninyasebuah kehidupan yang menurut adiknya telah sangat merusaknya itu. Dalam beberapa bulan terakhir, hampir setiap menjelang tengah malam seperti ini, ketika ia berdiri sendirian di balkon kamar tak lama setelah ia terbangun dan didera rasa haus yang teramat gila, beberapa jam setelah ia bersanggama dengan seorang lelakiselalu lelaki—yang tak pernah benar-benar dikenalnya dan tak pernah benar-benar mengenalnya, di sebuah kota yang menurutnya juga tak pernah benar-benar dikenalnya dan mengenalnya, kehadiran bayangan-bayangan hitam tersebut jadi terasa begitu kuat. Dan dari kehadiran yang terasa begitu kuat ini seperti muncul sebuah perasaan tak menyenangkan lain: semacam keterasingan; sebuah perasaan tercerabut dari kehidupan dan dari diri sendiri. Dan apabila ketika perasaan ini muncul ia mengepulkan asap rokok, seperti baru saja ia melakukannya, di benaknya ia membayangkan ia sesungguhnya tengah mengepulkan sesuatu yang lebih kuat (bau) dan cenderung likat (wujud), sesuatu yang seakan-akan padat dan seakan-akan berat. Sementara itu bayangan-bayangan tersebut, ketika ia mengamati mereka, sebagaimana selalu terjadi, masih hanya terdiam saja dalam posisi yang sama.


Kepada lelaki-lelaki yang ia temui dan kemudian membayarnya, dan selanjutnya bersanggama dengannya, ia tak pernah sedikit pun bicara soal bayangan-bayangan itu. Tak ada gunanya, pikirnya, terutama jika si lelaki adalah tipe orang yang lebih ingin bicara daripada mendengar, atau tipe orang yang lebih suka menjelaskan dirinya sendiri ketimbang apa pun, atau tipe orang yang secara terang-terangan menunjukkan bahwa pertemuan mereka, dan apa pun yang mereka lakukan bersama dalam pertemuan mereka itu, tak akan pernah lebih dari sekadar upaya untuk melampiaskan hasrat seksual semata, meloloskan diri-reptil mereka yang telah dengan sengajaatau terpaksamereka kekang sekian lama. Lelaki-lelaki itu, sejauh yang ia pahami, mau mengeluarkan uang dalam jumlah besar dengan sangat mudah, seakan-akan itu tak akan membuat mereka merasa kehilangan apa puntidak sesuatu yang signifikan dan berarti bagi mereka, dalam hidup yang mereka jalani. Barangkali ini seperti halnya dirinya, begitu ia berpikir suatu kali; dirinya yang dengan mudahnya mempertontonkan buah dada atau hal-hal lain dari tubuhnya, hal-hal yang menurutnya indah dan sensual dan menjual, kepada merekalelaki-lelaki yang kelak mengatur janji temu dengannya itu. Dan tidakkah dalam arti tertentu ia dan lelaki-lelaki itu sesungguhnya sama saja? Kali lain pernah juga ia berpikir seperti itu. Ia tak sedikit pun merasa kehilangan. Meski adiknya kerap mengatakan dengan melakukan hal itu ia telah memberikan terlampau banyak hal kepada orang-orang yang menurutnya sungguh tak layak menerimanya, ia, sejauh ini, sama sekali tak merasa kehilangan apa pun.

Lagipula apa itu kehilangan? Lagipula, apa itu kehilangan?

Pernah beberapa kali ia memikirkannya. Ia curiga, bagi sebagian orang yang hidup pada masa ini, terutama orang-orang sepertinya (baca: perempuan-perempuan yang dengan senang hati mempertukarkan diri-fisiknya dengan uang dengan memanfaatkan sejumlah aplikasi digital yang bermunculan di era teknologi informasi ini), kata itu telah kehilangan artinya, telah tak lagi memiliki makna yang konkret dan jelas, seperti telah tercerabut dari bahasa, dari realitas di mana ia pernah beradadan bernyawa. Dalam benaknya ia membayangkan dalam hidup yang dijalaninya orang-orang itu telah kehilangan terlalu banyak hal, dan mereka masih saja terjebak dalam sebuah sistem di mana agar bisa memperoleh sesuatu (yang diinginkan) mereka haruslah terlebih dahulu kehilangan sesuatu (yang mungkin penting); sehingga, dengan sendirinya, kehilangan menjadi sekadar sebuah ruang-kosong saja, sebuah jasad-tanpa-jiwa. Kata tersebut telah mati, dengan kata lain. Mati dan benar-benar mati. Dan ia sendiri telah kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang hampir lima tahun yang lalu, tanpa pernah ia merasa benar-benar kehilangan mereka setelahnya. Seakan-akan, dari awal, ia tak pernah sedikit pun merasa memiliki mereka, atau dimiliki oleh mereka.

Maka yang ia lakukan dalam beberapa tahun terakhir bersama lelaki-lelaki yang tak pernah benar-benar dikenalnya itu, ketika ia memikirkannya lebih jauh, mungkin bisa dianalogikan seperti ini: berpesta di sebuah ruangan dengan mayat-mayat bergelimpangan di ruangan tersebut, terserak, barangkali juga tersebar (baca: tiap-tiap mayat itu terpotong-potong dengan darah memenuhi sebagian lantai dan mengental di sana-sini), namun bau dan wujud mayat-mayat tersebut telah lenyap sebelum sempat tercium dan terlihat olehnya, juga oleh lelaki-lelaki itu; atau mayat-mayat tersebut dengan sekejap menjelma jadi semacam kekosongan yang siap menyergapnya kemudian, cepat atau lambat. Kali ini ia memikirkannya lagi. Sementara itu, di kiri dan kanannya, juga di belakangnya, bayangan-bayangan hitam itu masih ada, masih terdiam di sana seperti biasanya. Dan tentu masih terdengar juga olehnya bebunyian itu, dan sesekali tercium juga olehnya bau busuk itu; dan perasaan terasing dan tercerabut itu, dirasakannya, kembali menguat. Ia seperti didorong untuk melihat segala hal yang telah dijalaninya itu, yang oleh adiknya dimaknai sebagai perbuatan setan itu, sebagai sesuatu yang tak benar-benar nyata, yang tak pernah benar-benar ada, meski jelas sekali mereka ada.


Sebuah sentuhan di bahu kanan menyadarkannya betapa ia, di dalam kepalanya, telah mengembara begitu jauh, bahkan mungkin terlalu jauh. Si lelaki yang tadi terbaring di kasur kini telah berdiri di sebelah kanannya, tersenyum, sedikit menyeringai, dan dengan cepat menciumnya, dan setelah itu kembali menciumnya dan menciumnya, dan terus seperti itu, dan dengan sendirinya sentuhan di bahu kanannya tadi itu telah berubah menjadi cengkeraman di leher-belakangnyalumayan kasar, dan bertenaga. Baik ia dan si lelaki tak mengeluarkan kata-kata apa pun. Bahasa telah tercerabut dari diri mereka, barangkali. Atau ia telah menjelma jadi sesuatu yang lain, sesuatu yang pastilah bukan katabisa jadi gerak atau sentuhan, atau bahkan dengus napas.

Ketika ia menyadarinya ia mendapati sepasang matanya terpejam dalam, sementara ciuman-ciuman dari si lelaki terasa semakin kuat dan semakin liat. Ia perlahan membuka mata, dan mendapati lelaki itu tengah menatapnya, memandanginya, seperti ingin melesakkan sesuatu yang panas dan membekas kepadanya. Dan ketika ia sedikit menggeser arah pandangnya, sedikit saja, ia mendapati hal ini: bayangan hitam di sebelah kanannya tadi kini telah begitu dekat dengannya, dengan mereka, dalam jarak di mana jika saja ia sedikit mendorong si lelaki maka mestilah si lelaki akan bersentuhan dengan bayangan itujika memang bayangan itu bisa disentuh.

Dan tentu bukan hanya itu, ia pun kini semakin bisa mendengar bebunyian asing itu, dan semakin merasa terasingkan olehnya, dan kini menjadi sulit baginya untuk menikmati ciuman-ciuman dari si lelaki, juga sentuhan-sentuhannya dan cengkeraman-cengkeramannya, yang semakin kasar dan bertenaga. Dan ternyata ketika ia mencoba melirik ke kanan, ke arah kamar, ia mendapati si bayangan hitam lain di sana pun telah begitu dekat dengannya. Ia tergoda untuk membayangkan wajah atau tubuh si bayangan merupa semacam lubang hitam yang akan mengisapnya hingga tak tersisa, hingga benar-benar tak tersisa. Dan ia kini meyakini, tanpa perlu menoleh ke belakang, si bayangan satunya lagi pun telah begitu dekat dengannya; begitu dekatnya sampai-sampai ia cukup melangkah mundur sekali saja dan kulitnya akan bersentuhan dengan kulit si bayangan hitamsekali lagi jika memang si bayangan hitam ini bisa disentuh.

Kembali, ia menatap mata si lelaki, yang kali ini terlihat sedikit bingung—barangkali ia menyadari untuk beberapa saat si perempuan di hadapannya sedang tak benar-benar ada di sana. Namun ciuman-ciuman itu, juga sentuhan-sentuhan itu, masih terus dilancarkan si lelaki, dihunjamkannya kepadanya, bahkan cenderung semakin buas dan semakin lepas. Kini ia kembali memejamkan sepasang matanya, berusaha lebih aktif membalas ciuman-ciuman lelaki itu, dan di saat yang sama mencoba melupakan bahwa ketiga bayangan hitam itu tengah mengurungnya, mengepungnya, mengungkungnya, menekannya, seperti akan melukainya, seperti akan benar-benar melukainya. Seperti akan benar-benar … melukainya.

Dan si tokoh utama kita ini baru menyadari satu hal: sesuatu semacam ini, sungguh, tak pernah dialaminya sebelumnya.(*)

Cerpen ini termaktub di buku Tempat Terbaik untuk Mati (UNSA Press, 2021)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *