Agama Bukan Akar Segala Permasalahan Kita

Suatu ketika Patheos.com melansir berita bahwa parlemen Islandia bersepakat untuk memosisikan agama sebagai senjata pemusnah massal, satu kategori dengan senjata nuklir dan gas mustard. Kesepakatan ini bertolak dari pemahaman bahwa agama memiliki peran penting dan signifikan dalam terjadinya sejumlah peristiwa berdarah seperti Perang Salib dan “jihad. Kategorisasi ini berlaku untuk semua agama, termasuk ajaran-ajaran yang identik dengan ketenangan seperti Buddhisme (sumber: https://www.patheos.com/blogs/laughingindisbelief/2019/03/iceland-declares-all-religions-are-weapons-of-mass-destruction/).

Kontroversial, berani, dan heroik. Itulah mungkin kesan yang didapatkan seseorang dari membaca berita tersebut, terutama jika ia seorang anti-agama atau ateis garis keras seperti Richard Dawkins. Dan ia pun mungkin merasakan kegirangan yang luar biasa saat membacanya sehingga secara spontan ia beteriak sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Masalahnya, berita tersebut palsu. Palsu sepalsu-palsunya. Apa yang dilansir Patheos.com tersebut adalah sebuah satire, bukan berita. Keterangan mengenai hal ini sendiri tersedia di situs tersebut dan bisa ditemukan dengan mudah.

Kekonyolan Patheos.com ini cukup menggelitik. Banyak di antara yang membaca satire tersebut membagikannya begitu saja di media sosial dan meyakininya sebagai berita, sebagai informasi yang sifatnya faktual. Di antara teman-teman Facebook saya sendiri, ada setidaknya dua orang yang melakukannya. Menariknya, keduanya adalah orang-orang yang terkenal cerdas dan memiliki wawasan yang luas. Salah satunya bahkan seorang profesor yang menulis buku-buku nonfiksi bermutu.

Mau tidak mau, hal ini membuat saya berpikir: jangan-jangan, orang-orang seperti mereka inilah yang diserang satire Patheos.com itu; orang-orang yang kadung membenci agama dan segala hal yang ada di dalamnya; orang-orang yang perspektifnya terhadap agama sangat reduktif dan negatif. Satire tersebut, dengan kata lain, berusaha mengatakan kepada kita bahwa membenci agama dan menjadikannya kambing hitam atas segala persoalan yang ada bukanlah solusi, sama sekali bukan solusi, sebab agama pada dasarnya memang bukan akar dari segala permasalahan yang kita hadapi.


Itu terlihat, misalnya, dalam kasus teror yang “baru-baru ini” terjadi di Selandia Baru. Pada suatu Jumat siang, empat pelaku teror berkebangsaan Australiatiga laki-laki dan satu perempuanmenembaki orang-orang muslim yang sedang melaksanakan salat Jumat di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru; salah satu dari mereka bahkan sempat menayangkan secara langsung aksi terornya ini di Facebook dan mengunggah semacam manifesto yang dijadikannya landasan untuk aksi brutalnya ini. Korban jiwa dari aksi teror ini mencapai lima puluh orang.

Mencermati manifesto yang diunggah salah satu pelaku teror itu, yang di tulisan ini akan disebut A, kita mendapati bahwa aksi tak berperikemanusiaan ini diposisikannya sebagai aksi balas dendam atas meninggalnya Ebba Akkerlund, seorang anak berumur 11 tahun, dalam aksi teror di Stockholm, Swedia, pada 2017 lalu, yang dilakukan oleh seorang imigran dari Uzbekistan yang juga simpatisan ISIS. Dalam manifestonya itu, A mengatakan bahwa aksi teror di Stockholm dan kematian Ebba Akkerlund ini adalah peristiwa pertama yang menginspirasinya untuk melakukan aksi terornya di Christchurch itu (sumber: https://www.news.com.au/world/pacific/gunman-who-opened-fire-on-christchurch-mosque-addresses-attack-in-manifesto/news-story/70372a39f720697813607a9ec426a734).

Aksi teror, simpatisan ISIS, balas dendam. Tiga kata kunci ini bisa jadi segera membuat kita berpikir bahwa akar permasalahannya adalah ideologi ekstrem yang bertolak pada ajaran agama tertentu, dan simpulan ini seakan-akan diperkuat oleh kenyataan bahwa orang-orang yang dipilih sebagai korban oleh A dan ketiga teman Australianya itu adalah orang-orang yang tengah menjalankan ritual keagamaan tertentu, di rumah ibadah mereka. Tetapi tentu saja ini keliru. Keliru sekeliru-kelirunya. Pertama, orang-orang di Christchurch yang terasosiasikan dengan agama tertentu itu adalah korban, dan tolol sekali jika kita melihat karakteristik dan identitas korban ini sebagai akar masalahnya. Kedua, identitas keagamaan hanya salah satu faktor yang dilihat A dalam merencanakan dan merancang aksi terornya itu; ada faktor lainnya yang posisinya bisa jadi jauh lebih dominan yakni status para korban sebagai imigran. Ingat, si pelaku teror di Stockholm tadi juga seorang imigran.

Dan jika kita cermati kembali manifesto yang diunggah A itu, kita memang akan sampai pada pemahaman bahwa hal-hal terkait agama ini sungguh kalah dominan dibanding hal-hal terkait status imigran para korban. Sebagai seorang kulit putih yang rasis, A meyakini bahwa kehadiran para imigran di negara-negara Barat sejatinya mengancam eksistensi dan dominasi para tuan rumah kulit putih; A juga terjangkiti xenofobia sehingga dalam bayangannya para imigran dari Dunia Ketiga itu kelak akan menggantikan para tuan rumah kulit putih sebagai kelompok yang dominan jika sesuatu tak segera dilakukan untuk mencegahnya. Di Selandia Baru sendiri, dalam pengamatan A, situasinya kurang lebih seperti itu. Meski situasi ini bukan akar masalah yang kita maksud, setidaknya sudah terlihat bahwa agama belum tentu sesuatu yang krusial dan dominan dalam terjadinya sebuah aksi teror.


Lalu apa akar masalahnya? Jika bukan agama dan situasi imigran vs. tuan rumah kulit putih, apa akar masalahnya? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, kita harus membaca terlebih dahulu narasi hidup si pelaku teror.

Untuk kasus aksi teror di Stockholm tadi, misalnya, salah satu hal yang harus digarisbawahi terkait narasi hidup si pelaku teror adalah bahwa ia sudah kehilangan pekerjaannya dan dicari-cari polisi setempat untuk dideportasi, sehingga kita bisa membayangkan bahwa tekanan terbesar yang dirasakannya datang bukan dari propaganda-propaganda ISIS melainkan dari sulitnya situasi sosial-ekonomi yang dijalaninya ketika itu. Sebelumnya, ketika ia masih punya pekerjaan dan penghasilan bulanan, ia mengirimkannya sebagian kepada istri dan anak-anaknya di Uzbekistan.

Di sini, simpulan awal bisa kita ambil: akar masalahnya adalah situasi sosial-ekonomi si pelaku teror yang buruk, adalah tidak mampunya si pelaku teror untuk hidup dengan layak baik itu sebagai dirinya maupun sebagai tulang punggung keluarganya. Propaganda-propaganda ISIS dan rasa simpatik si pelaku teror terhadap organisasi teroris ini memang punya andil, dan pada akhirnya andilnya bisa jadi cukup dominan, tetapi itu karena si pelaku teror sudah sampai pada titik sosial-ekonomi yang begitu rendah dalam hidupnya di sana. Dan, kalau kita mau, kita bisa juga mencaritahu kenapa si pelaku teror sampai harus meninggalkan keluarganya dan menjadi imigran di Swedia, seberapa sulit menjalani hidup di Uzbekistan dan apa saja penyebabnya. Tentulah kita akan menemukan hal-hal menarik jika melakukannya, tetapi untuk saat ini kita batasi sampai di sini dulu saja. Setidaknya kita sudah tahu bahwa faktor agama bukanlah faktor dominan dalam kasus aksi teror yang melibatkannya sebagai pelaku ini.

Dan kini mari kita beralih ke kasus di Christchurch. Sebagaimana diinformasikan tadi, A dan ketiga pelaku lainnya adalah orang-orang Australia; mereka tidak tumbuh di Selandia Baru; paham ekstrem dan radikal mereka tidak dibentuk oleh lingkungan sosial-ekonomi-politik di Selandia Baru yang relatif kondusif bagi para imigran. Di Australia sendiri, sebagaimana umumnya di negara-negara Barat belakangan ini, gelombang anti-imigran sedang begitu kuat, khususnya terhadap para imigran muslim. Kembalinya Senator Pauline Hanson ke kancah politik di sana, misalnya, menunjukkan hal ini. Hanson adalah seorang xenofobik yang sekaligus juga islamofobik. Dalam kacamatanya, kehadiran para imigran muslim di Australia adalah sesuatu yang berbahaya bagi para tuan rumah kulit putih di sana, di mana ia punya bayangan bahwa, jika dibiarkan, suatu saat Australia akan berada dalam kekangan Syariat Islam dan para tuan rumah kulit putih itu akan menjadi warga kelas dua. Ketakutan-ketakutannya ini mendorong Hanson untuk menyerukan pelarangan terhadap hal-hal yang terkait erat dengan para imigran muslim di sana seperti pembangunan masjid, pemakaian niqab/burqa di ruang publik, bahkan Al-Quran itu sendiri (sumber: https://www.fairobserver.com/region/asia_pacific/christchurch-attack-new-zealand-brenton-tarrant-terrorism-world-news-today-78931/). Sebuah situasi sosial-politik yang bisa mendorong tumbuh suburnya ekstremisme dan radikalisme.

A tumbuh dalam situasi sosial-politik seperti ini. Keluarganya konon adalah keluarga penyayang yang jauh dari kesan ekstrem maupun radikal, namun A dalam beberapa tahun terakhir menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan ke luar negeri, termasuk ke Eropa di mana ia kemudian terinspirasi untuk melakukan aksi terornya itu. Temuan-temuan dalam sains terkait perkembangan perilaku dan perspektif seseorang, seperti yang dikemukakan oleh Matt Ridley dalam Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab (Gramedia, 2005), menunjukkan bahwa pengaruh pengasuhan dalam keluarga tidaklah sebesar pengaruh genetik dan lingkungan pergaulan. Itu artinya, kendatipun keluarga A bukan tipe keluarga yang berpotensi mendorongnya menjadi ekstrem dan radikal, A tetap sangat mungkin menjadi ekstrem dan radikal akibat apa-apa yang dicecapnya di luar rumah. Ada dugaan dari bekas teman-temannya bahwa A terpapar ekstremisme dan radikalisme ini saat ia berjalan-jalan di luar negeri. Kalaupun ini benar, fakta bahwa situasi sosial-politik di Australia sangat tidak sehat tetap perlu diperhitungkan. A bisa saja sudah terpapar ekstremisme dan radikalisme sebelum ia mulai berjalan-jalan ke luar negeri; paling tidak bakal ekstremisme dan radikalisme itu sudah ada di dalam diri A karena situasi sosial-politik yang dihirupnya setiap harinya. Ini menjelaskan kenapa A, ketika ia berada di Eropa dan mendapati ada banyak imigran di sana, langsung memosisikan para imigran ini sebagai penjajah.

Jadi, kita bisa mengatakan bahwa dalam kasus A, atau aksi terornya di Christchurch itu, akar masalahnya adalah situasi sosial-politik di negara asal A yang sangat tidak sehat, yang sangat diskriminatif dan agresif terhadap para imigran muslim di sana, yang mendorong tumbuh suburnya ekstremisme dan radikalisme. Akar masalahnya adalah situasi terkait kehidupan beragama dan bermasyarakat, bukan agama itu sendiri.


Kalaupun kita bersikeras mengatakan bahwa agama tetap punya peran di situ, kita tentulah menyadari bahwa agama tak pernah berdiri sendiri; ia selalu ditopang oleh hal-hal lain yang jauh lebih kuat pengaruhnya darinya. Dalam kasus aksi teror di Stockholm, sesuatu itu adalah situasi sosial-ekonomi si pelaku teror. Dalam kasus A dan aksi terornya di Christchurch, sesuatu itu adalah situasi sosial-politik yang dihirupnya selama ia tumbuh di Australia. Agama, dalam hal ini, seperti tubuh yang dirasuki roh jahat, atau algoritma yang sifatnya netral namun kebetulan dipakai oleh seseorang yang berpikiran jahat.

Maka dari itu, menjadikan agama sebagai kambing hitam dari aksi-aksi teror tersebut benar-benar sebuah kekeliruan. Kalaupun agama dilarang atau bahkan ditiadakan, seperti yang tergambarkan di satire Patheos.com tadi, itu hanya akan menambah ruwet permasalahan yang kadung ada.

Terkait hal ini, kita perlu memuji langkah-langkah yang diambil masyarakat dan pemerintah Selandia Baru. Tidak seperti Senator Australia Fraser Anning yang menyalahkan para imigran muslim, masyarakat dan pemerintah Selandia Baru justru terang-terangan menunjukkan keberpihakan mereka kepada para imigran muslim itu; mereka merangkul para imigran muslim dan memasukkan mereka ke dalam kategori kitasebuah indikasi bahwa status tuan rumah dan imigran di sana hanyalah ilusi belaka. Bahkan, mereka juga memberi ruang-ruang tampil yang lebih lapang bagi para imigran muslim pasca kejadian tragis itu, seperti dengan membiarkan seorang imam melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di depan parlemen dan menyiarkan azan salat Jumat ke seluruh penjuru negeri. Dan bukan hanya itu, banyak di antara para perempuan non-muslim di sana mengenakan kerudung atau jilbab sebagai aksi solidaritas, termasuk seorang polwan bernama Michelle Evans yang ikut mengamankan proses pemakaman para korban. Tidak cukup sampai di situ, sejumlah banyak warga tuan rumah kulit putih juga terlihat bersatu memberikan rasa aman kepada para imigran muslim yang hendak melaksanakan salat Jumat seminggu setelah aksi teror terjadi.

Agama, dengan kata lain, sama sekali tidak diposisikan oleh mereka sebagai masalah, apalagi akar masalah. Aksi-aksi teror yang berbau atau berlandaskan agama adalah satu hal, agama itu sendiri adalah hal lain. Dalam hal ini cara mereka melihat bagaimana agama berelasi dengan ekstremisme dan radikalisme relatif sejalan dengan Deeyah Khan (sumber: https://www.youtube.com/watch?v=0_W0HFy9Et4): meyakini bahwa di balik faktor agama yang tampak jelas di permukaan itu ada faktor-faktor lain yang jauh lebih krusial dalam mendorong lahirnya ekstremisme dan radikalisme. Dan faktor-faktor yang jauh lebih krusial inilah yang harus dibenahi.

Dalam kasus A dan aksi terornya di Christchurch, seperti dipaparkan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern (sumber: https://www.youtube.com/watch?v=jkW6Jc35_V8&t=0s&index=6&list=LLzmqSF2nPt9AyQiRCr9EisA), faktor yang jauh lebih krusial itu adalah situasi sosial-politik yang mendorong tumbuh suburnya ekstremisme dan radikalisme, baik dalam skala lokal maupun global. Untuk pembenahan dalam skala lokal, salah satu yang ditempuh Ardern adalah memperketat secara signifikan regulasi kepemilikan senjata api di Selandia Baru. Adapun untuk skala global, Ardern menyerukan agar masyarakat dunia bersama-sama berusaha menyehatkan kembali situasi sosial-politik, terutama yang berkenaan dengan para imigran. Sama sekali, Ardern tak menyinggung soal pembenahan agama atau yang semacamnya. Sama sekali tidak.

Sebuah contoh yang baik, tentu saja. Sebab agama, pada dasarnya, memang bukan akar masalah dari segala permasalahan yang kita hadapi.(*)

Bogor, 24-26 Maret 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *